Arsip untuk Kategori 'Riding review'

03
Jun

Ducati 848 Superbike Friendly !

Dibanding Superbike Lainya Riding Position Terbilang Nyaman

Berbicara mengenai riding position Superbike, langsung terbayang akan posisi ekstrim membungkuk yang barang tentu hanya berguna saat motor digunakan di sirkuit. Namun berbeda dengan pendahulunya Superbike 749 yang memiliki riding position terlalu ekstrim, Ducati 848 terbilang lebih normal, bahkan lebih nyaman bila dibandingkan riding position Yamaha R6 edisi 2007 ataupun Honda CBR 600RR edisi 2008 sekalipun.

Torsi Besar Pada Putaran Tengah - Jinak Pada Putaran Rendah

Bila dibandingkan dengan Ducati 749 dan 1098 pengendaraan 848 pada putaran mesin rendah 848 terbilang jinak, bahkan dibandingkan dengan Ducati Supersport 900 sekalipun! Terlebih riding position 848 yang jauh lebih nyaman dibanding 999, membuat pengendara tidak cepat merasa lelah, terlebih bila mengendarai 848 ditengah kemacetan. Penyakit udara panas yang kerap menghantui pengendara Superbike di jakarta tidak terjadi pada 848. Tetapi di saat ingin mencoba kemampuan mesin sesungguhnya tenaga 134 Hp dan torsi 105 Nm siap membuat motor dengan bobot hanya 168 Kg ini melesat bak anak panah.

Dashboard Full Digital Super Canggih

Ducati 848 seperti juga saudaranya yang lebih besar 1098, telah menggunakan dashboard full digital dan on board computer. Dashboard ini tidak saja menunjukan kecepatan melalui angka digital berukuran besar, namun juga menunjukan putaram mesin melalui garis/bar persis seperti yang digunakan pada motor Casey Stoner pada Ducati GP7 nya.

Selain penunjuk kondisi tempratur mesin, jarak tempuh dan bahan bakar yang tersisa, sashboard ini juga mampu menunjukan jarak yang dapat ditempuh, lap time hingga kondisi mesin secara keseluruhan. Menariknya dengan sedit upgrade, Dashboard ini mampu menampung data dan berfungsi menunjukan telemeteri performa motor. Namum fitur yang terakhir ini hanya berfungsi optimal jika motor seharga 355 juta rupiah ini dipakai di sirkuit sentul ataupun sirkuit bertaraf internasional lainya.

26
Mei

Honda CS1 - Motor Berkopling Paling Nyaman

Rute : Mampang-Warung Buncit-Kemang Pada Jam 5.30 Sore 

Indobikers berkesempatan mencoba Honda CS1 milik sahabat, yang juga merupakan pengguna Honda CBR Fireblade Repsol 1000, terlepas apakah masbro yang satu ini seorang fanatik Honda atau bukan :roll: , pokoknya yang penting Indobikers bisa merasakan tingkat kenyamanan motor Honda CS One pada kondisi jakarta yang sesungguhnya yaitu menghadapi macet, jalan merayap dan situasi dimana kopling motor bekerja dengan keras dan mesin yang menggunakan radiator tidak tersuplai aliran udara dengan maksimal.  

Kopling dan penyaluran tenaga optimum

Kopling Honda CS1 lembut, terlepas dari kondisi motor yang relatif baru tetapi kondisi jalanan Mampang-Warung Buncit yang memaksa pengendara motor melakukan stop - jalan dan memindahkan gigi 1-2 dan posisi setengah kopling secara konstan ternyata tidak melelahkan bahkan bila dibandingkan motor bebek konvensional (tanpa kopling sekalipun). Hal ini tidak lepas dari penyaluran tenaga motor pada putaran mesin rendah yang optimum dan effisian - ingat optimum disini artinya tenaga yang disalurkan adalah “pas” cukup untuk menggerakan motor dengan baik pada putaran rendah-menengah. Karena kadang tenaga terlalu besar seperti pada Satria FU justru tidak effisien karena tenaga dan torsi terlalu besar justru membuat pengendara menarik tuas kopling secara penuh atau berkendara merayap dalam posisi setengah kopling. Kontras dengan Honda CS1 tenaga motor yang cukup besar mampu dipergunakan secara optimal dan tidak mubazir. Ganjaranya pun menjadikan konsumsi BBM CS1 pun akan menjadi lebih effisien.

Tempat Penyimpanan dibelakang Stang … Berguna lho!

Umumnya motor berkopling tidak memiliki fitur seperti ini, bahkan tidak semua skutik tidak memilki fitur ini. Kesanya sederhana, namun tempat penyimpanan ini bisa digunakan sebagai tempat penyimpanan botol minuman mineral ukuran kecil. Gunaya terasa saat berda di kemacetan, karena pengendara dapat meminum disaat sedang mengantri di kemacetan, hal ini terbukti vital karena di tengah antrian kendaraan, udara jakarta yang berkisar antara 34-38 derajat celcius bisa meningkat menjadi 40 derajat celcius terutama di dalam kemacetan akibat panas yang diproduksi oleh mesin kendaraan bermotor. Dengan adanya fitur tersebut pengendara dapat mengurangi resiko dehidrasi dengan meminum air mineral dan menjaga konsentrasi tanpa perlu repot menyimpanya di tas ataupun digatung pada kantog plastik … wah !

 

25
Apr

Test “Drive” Kawasaki Ninja ZX 250R !

Pengen moto pas lagi naik motor, cuma rada2 malu gitu he…he…he :mrgreen:

Akhirnya Rasa Penasaran Tersebut Sedikit Terjawab

Pada siang hari tanggal 24 april kurang pukul 13.00 AEST Indobikers iseng2 masuk kedalam showroom Kawasaki yang berlokasi di Elzabeth Street. Niatnya adalah mencari helm Shark sekaligus berharap dapat melihat langsung Kawasaki Ninja ZX 250R terbaru. Tidak disangka ternyata di dalam showroom yang juga menjual motor raksasa ZX 14 tersebut sudah nongkrong beberapa unit Kawasaki ZX 250R.

Kebetulan disana ada beberapa orang yang juga sedang mencoba motor tersebut (di parkiran), tanpa pikir panjang saia pun ikut Nimbrung. Entah karena saat itu saia sedang menggondol helm Nolan Storner N62 ress (untuk oleh2) atau karena saia memakai topi Ducati Corse, salesnya tanpa basa basi langsung nyuruh saia naik di atas motor tersebut :-D hup tanpa pikir panjang saia langsung berada di motor tersebut.

Riding Position Yang Kompromi, Tapi Jangan dilihat dari Belakang !!!

Meski berkategori Sportbike / Light Superbike namun riding position Kawasaki Ninja ZX 250 tersebut justru lebih mendekati saudarnya yang berjenis Sport Touring ZZ 250R. Apalagi dibandingkan dengan motor superbike semisal Ducati 996 yang beberapa waktu lalu sering saia pakai wara-wiri di sentul, motor ini lebih memiliki riding position yang normal. Tetapi jangan harap akan mendapatkan kenyamanan semisal mengendarai Multistrada ataupun Suzuki B-King Sekalipun, karena bagaimanapun genetik Kawasaki Ninja ini tetap saja merupaka sebuah Sportbike.

Dilihat dari depan ZX 250R ini begitu cantik - terlebih tidak ternoda dengan tempat pelat nomor (disini motor cukup memasang plat nomor di belakang)  Bahkan untuk seorang rider yang bertinggi diatas 180cm motor dengan bobot bersih 152 kg ini tetap terlihat lumayan besar. Apalagi jika dilihat dari samping, meski riding position terbilang tidak terlalu ekstrim namun jika dilihat pengedara motor seolah sangat membungkuk. Hanya saja ukuran ban belakang yang extra kecil alias 130/60×17 membuat penampilan Ninja ini seolah menjadi cingkrang karena ukuran ban yang kurang lebar. Namun hal ini bukan masalah karena swing arm motor ini mampu mengakomodir ban berukuran 150/60×17 dengan aman.

Bergembiralah Konsumen Kawasaki di Indonesia

Ternyata di Australia sekalipun motor Kawasaki yang dijual hanyalah yang bermesin konvensional alias masih menggunakan karburator! Belum lagi hanya ada dua warna yang bisa dipilih yaitu warna merah dan hitam solid! Belum lagi untuk urusah harga, bayangkan di Indonesia motor ini di bandrol Rp 43/45 juta o the road. Sedangkan di sini motor ini di bandrol $7000 AUD dengan kisaran kurs $1 AUD adalah 8.500 maka harga motor ini adalah 59.500.000  alias 60 Juta Rupiah 8O Sepertinya kita semua harus angkat topi dengan keseriusan dan kemurahan hati Kawasaki Motor Indonesia :-D yang telah menghadirkan motor ini dengan bermagai macam pilihan warna dan harga yang amat wajar, jika tidak mau dibilang murah.

24
Apr

Yamaha Vino … Asyik!

Sekilas Yamaha Vino

Yamaha Vino  adalah skutik berkapasitas 125cc yang memiliki desain retro. Desain Yamaha vino sendiri bisa dibilang lebih european oriented dibanding asian oriented yang kebanyakan berdesain futuristis. Yamaha vino sendiri kurang lebih adalah lebih pende sekitar 10-13cm dibanding yamaha Mio Soul dan lebih ramping sekitar 4 cm. Kecil memang namun sesuai fungsinya motor ini memang di desain untuk digunakan di dalam kota.

Keliling Melbourne CBD naik Vino … Asyik

Kebetulan Indobikers berkesempatan mencoba mengendarai Yamaha Vino miliki bro Andi. Mengelilingi Melbourne CBD mulai dari Exhibition - Spring - Lygon - Swanston - Collin st dan berakhir di exhibition alias tempat semula. Motor berukuran mini tersebut ternyata mampu bermanfuer dengan baik baik di saat menikung maupun berakselerasi. Meski hanya menggunakan rem tromol depan-belakang namun rem tersebut sudah cukup untuk kecepatan Vino yang hanya 75 km/jam.

Dijual Rp 14,4 juta rupiah on the road, hmm …

Dengan kurs 1$ Aud = 8000, motor ini dibandrol $1800 alias 14.4 juta rupiah. Sudah termsuk sebuah helm Nolan Classic dan boks Givi. Sebuah tawaran yang menarik terlebih jika dibandingkan dengan harga Kawasaki Ninja ZX 250 yang dibandrol $6000 Aud ataupun Aprilia New RS 125 Jorge Lorenzo yang berada di kisaran $8000. Betul menjadi sebuah tawaran yang sangat menarik terlebih di Melbourne kecepatan maksimum adalah 80 km/jam.

Vino Classic masuk Indonesia …

Seandainya Yamaha Vino masuk ke indonesia melalui YMKI alias di ckd bisa jadi harga serupa juga menjadi bandrol untuk menebus Vino . Yang pasti motor ini memiliki keunggulan tersendiri dibanding kompetitornya seperti Vario, Skywave bahkan Mio sendiri. Selain penampilan yang benar benar berbeda motor ini memiliki fitur yang jauh user friendly dan kenyamanan yang lebih dibanding skutik lokal yang telah lama beredar. Berminat ?

Update : Dari Guspur : Bener Gus ternyata itu hanya Vino saja, soalnya maklum yang empunya motor kurang faham mengenai motor. Untuk Vino/Vino Classic harganya hanya terpaut 200 Aud. Tenkyu …

13
Mar

Indomobil Suzuki - Resmi Jual Moge !

tesdrive.jpg

Pada hari kamis tanggal 13 maret, pihak ATPM Suzuki roda dua - Indomobil mengadakan acara gathering sekaligus press confrence. Tentunya berkaitan dengan status Indomobil Suzuki yang menjadi ATPM major pertama di indonesia yang menjual moge. Selain press confrence pihak indomobil juga mengadakan acara testdrive bagi beberapa komunitas bikers seperti DDOCI (Ducati), R-15 (Supersport-Superbikes) dan beberapa rekan wartawan.

3 Lap bersama Hayabusa K2, B-King, GSR 600 dan Intruder

Kebetulan pada hari itu DDOCI diwakili oleh Bro Amos, Bro Setiawan dan Indobikers yang mendapat kesempatan untuk mencoba performa produk andalan Suzuki tersebut. Sebenarnya bagi para bikers tidak dibatasi seberapa banyak putaran yang boleh dilakukan tetapi berhubung banyak rider yang berebut untuk mencoba maka rasanya setiap bikers hanya mencoba sekitar 3 lap setiap motornya. Karena bikers yang mencoba berasal dari komunitas sportbike seperti DDOCI dan R-15 maka ucapan yang keluar pertamakali dari mulut mereka setelah melakukan test drive adalah membandingkan produk suzuki tersebut dengan motor mereka.

3 lap di GSR-600 Streetfighter

bagi Indobikers Mengendarai GSR-600 seolah melakukan nostalgia dengan Monster 600. Namun perbedaanya cukup mencolok. Suara mesin GSR-600 begitu halus dan ukuran GSR-600 yang tidak terlalu besar membuat motor ini paling nyaman untuk di kendarai. Kecepatan maksimum yang diperoleh Indobikers di straight lane adalah 180 km/jam.

3 lap merasakan tenaga Suzuki B-King

Setelah bertukar motor dengan bro Amos, Indobikers merasakan dahsyatnya kesetabilan dan tenaga Suzuki B-King. Ukuran ban belakang 190/55 membuat rasa pe-de dalam mengendarai king-kong ini. Meski baru pertama kalinya mengendarai streetfighter penderita gigantsme ini rasanya tetap nyaman saat melahap tikungan r2 pada kecepatan 130 km/jam. Pada lap kedua Indobikers mencoba membuka gas secara full untuk mengetahui top speed B-King. Ternyata B-King memanglah “King” sesungguhnya. Saat membuka gas penuh, perpaduan antara tenaga sebesar 180 hp dan hebusan angin pada kecepatan 235 km/jam menekan pengendara hingga seperti terlempar ke belakang … Dahsyat! Bahkan bagi bro Amos yang merupakan rider Monster S4Rs (sudah terbiasa menjinakan tenaga sebesar 130hp) menganggap B-King merupakan street fighter paling dahsyat yang pernah ada. Hanya saja kebanyakan para rider sepakat bahwa ukuran B-King yang terlalu besar sangat sulit digunakan di jalanan umum. Bayangkan bila Multistrada 1000 andalan Indobikers saja terasa lebar, bila dibandingkan B-King Multistrada hanya berukuran setengahnya saja 8O Wow!

260 km/jam di atas Suzuki Hayabusa K2 dan saran dari bro Bona

Sebelum mencoba Suzuki Hayabusa K2, Indobikers dan bro Amos di ingatkan oleh Bro Bona (DDOCI & R15 + Blogger Wp) yang telah terlebih dahulu mencoba motor super bikinan suzuki ini. Pesan beliau sebenarnya cukup simpel yaitu “sering-sering lihat speedo meter” 8O pasalnya berbeda dengan motor Ducati yang bersuara kasar serta memiliki viberasi tinggi, Suzuki Hayabusa bersuara halus layaknya Honda Vario - serius bukan bercanda. Sehingga seringkali rider tidak sadar bahwa ia telah mengendarai Hayabusa terlalu cepat. Indobikers berhasil menembus 261 km/jam pada lintasan lurus. Sedangkan bro Amos lebih cepat lagi yaitu 270 km/jam lebih. Bedanya dengan B-King karena menggunakan fairing hempasan angin pada Hayabusa tidak terlalu terasa. Dahsyat !

Suzuki Intruder 1800 dan DR400 Supermoto

Ini motor terakhir yang di coba oleh kami. Bro Amos mengendarai Intruder dan Indobikers mengendarai DR400 Supermoto, namun karena tidak terbiasa menggunakan chopper maka tidak banyak yang bisa diceritakan bro Amos selain sulitnya menikung. Bagi Indobikers mengendarai DR400 Supermotto mirip mengendarai jetski. Memiliki tenaga putaran bawah yang tinggi namun sayang topspeednya hanya 145 km/jam. Disamping gejala melayang, suspensi terlalu empuk membuat perasaan kurang pede saat menikung.

Harga Moge tersebut agak Kemahalan deh …

Penawaran menarik dari Indomobil tersebut sayangnya memiliki nilai minus. Yaitu harganya agak kemahalan. Memang bila dibandingkan harga Ducati, pricelist tersebut masih jauh lebih murah. Namun bila dibandingkan harga yang ditawarkan oleh importir umum semisal Hotpipes harga Moge dari Suzuki Indomobil terpaut cukup jauh. Sebagai contoh di Hotpipes GSR-600 di bandrol 160 juta on the road sedangkan di Suzuki Indomobil motor serupa dipatok pada harga 170 juta dan Off the road pula! Mudah mudahan seiring berjalanya waktu pricelist yang dikeluarkan Indomobil Suzuki akan menurun agar semua bikers dapat menikmati moge bersama sama :-D

Bravo Suzuki Indomobil ! Bravo Hayabusa ! Bravo B-King !

27
Nov

MACET !!!

my-monster-my-live.jpg 

Macet…Macet…Macet…

Jakarta kota macet, bagi seseorang yang baru saja kembali ke jakarta setelah 3 bulan meninggalkan jakarta untuk bermain dan kongkow2 menuntut ilmu di Melbourne perubahan tingkat kemacetan di Jakarta sangat terasa perbedaanya, bahkan di banding jamanya pilkada agustus lalu. Ok, mungkin ini ini karena pembangunan Bus-way dan di saat yang bersamaan dilakukan penggalian di tepi kiri kanan jalan untuk mengantisipasi banjir. Tetapi sebenarnya ada beberapa pihak selain menusia yang juga terkena imbas dan tidak kalah menderitanya dikala terjebak kemacetan yaitu kendaraan kita yang satu ini : Motor

Monsterku pindah shift …

Oh, ya mohon maaf bila postingan kali ini berbau curhat pribadi cuman ibarat gunung kelud rasanya kepingin bangen di muntahkan, sekali lagi maap ye :-D Niatnya begitu sampai di Jakarta, tekad bulat bahwa selama dua bulan total di jakarta hanya naik Monster, no car at all! tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya. Kemacetan gila gilaan merebak dimana mana. Jangankan pakai mobil, buat motor bebek maupun skutik untuk menyelinap pun sudah sulit apalagi motor berukuran lumayan besar seperti Duc Monsterku ini :( .Pernah memaksakan diri siang bolong riding dari Kemang ke senayan city pake Monster wuih … butuh waktu 1 jam 20 menit padahal maksimal cuma makan waktu sekitar 20-30 menit. Paha pun rasanya seperti di panggang dan badan basah kuyup oleh kringat. Mengingat standar Monster 600 cuma memakai angin sebagai pendingin, (bisa pake oil cooler sebagai tambahan) rasanya tidak tega untuk menyiksanya setiap hari. Akhirnya keputusan memindahkan jatah “shift” Monsterku dari dinas siang ke malam hari pun dilakukan. Itupun cuma sebatas muter2 di daerah Kemang dan Pondok Indah dimalam hari. Kalaupun di siang hari itu hanya bisa dilakukan di hari sabtu dan minggu pagi saat riding bareng DDOCI :(

Skutik Solusinya

Kebetulan di rumah ada skutik Vario, biasanya cuma dipakai untuk belanja atau keperluan rumah tangga namun kali ini tugasnya berbeda - sebagai alat transportasi utama :) . Dibanding bebek sekalipun ternyata skutik memang paling manjur untuk  menghadapi macet. Disamping tinggal mengandalkan bukaan gas, skutik juga dilengkapi rem tangan saat berhenti di lampu merah. Belum lagi minimnya getaran yang dibuat oleh skutik baik Mio,Vario atau Spin saat berhenti membuat paha dan perut kita menjadi lebih nyaman. Keunggulan lain adalah penempatan mesin yang berada di bagian bawah motor, ini juga sangat terasa manfaatnya karena panas mesin tidak mengenai paha namu terbuang ke arah bawah dan belakang motor. Meski waktu tempuh relatif sama tetapi kenyamanan saat menghadapi kemacetan relatif meningkat terutama saat terjebak mecet. Menurut pengamatan sepertinya bila keadaan jakarta seperti ini maka seharunya pangsa  pasar skutik akan meningkat secara signifikan bahkan dibanding bebek sekalipun. Bravo Skutik !!! 

26
Jul

Biker Harley Davidson (dadakan) di Semarang

harley-883-sportster.jpg

by - Wyren

Harley Davidson, motor yang selalu dimpor bulat-bulat dari negeri pama Sam ini selalu saja memiliki penggemar dan pem”benci”nya. Suaranya yang menggelegar sudah menjadi trade-mark. Bahkan penggemar Harley pun bisa membedakan suara HD dari Suara moge cruiser yang lain semacam Yamaha Road-star warrior atau Kawasaki Vulcan dengan mata tertutup. Bahkan jika menonton acara Nathional Geoghrapic tentang manufacturing Harley Davidson, Harley disebut sebagai salah satu jiwa Amerika. Hummmm… Kayaknya cukup basa-basinya.. Langsung ke main topic.

kondisi jalan di kota semarang tidak semrawut kota Jakarta, macetpun masih merambat pelan. Karena saya tidak suka ngambil cara Harley yang menggeber motor untuk ngambil jalan, mending sabar di barisan mobil. Kasihan bebekers yang keganggu sama deru HD kalo ngambil di kiri jalan. Bahkan saya kalau jalan hanya sekitar 2000an rpm gigi 3 atau 4..

Dari soal tampang dulu deh …

Karena motornya sudah dimodif “aneh”… Kenapa gw nyebut aneh? Soalnya tidak ada kesesuaian dalam perubahan modif ini. Tidak ada arah yang jelas. Bahkan berkesan bolt-on (karena beli). Stangnya kalo di katalog aksesoris HD drag style, tangki tear drop shape biasa, jok single seater berkesan cafe racer, and buntut style HD sportster lawas. Karena penasaran akhirnya gw tanya ke bokap.

Gw: Pah… ni HD sebetulnya stylenya apa sih?
Bokap: FUTURISTIK!
Gw : Waduhhhhh…

Kesan dan pesan …

Feeling pertama saat naik ke sadel (kuda besi) Harley adalah feeling gak nyaman. Karena kebiasaan saya selama 3 tahun adalah kaki mendekap tangki motor, motor Tiger tepatnya. Karena kaki merasa melayang, tetapi berbeda dengan naik bebek biasa yang kakinya juga melayang. Mungkin karena belum biasa juga sih. Tapi who cares? Toh gak akan sering saya pakai…

Setelah memutar bundaran dikomplek perumahan 1x, jalan raya pun akhirnya dijabanin juga. Setelah jalan beberapa kilometer menuju ke bengkel, saya mikir “ni motor gampang banget dikendarai !” Beneran! Gak perlu waktu dan tenaga untuk dapat meng-exploitasi kemampuan motor. Tidak seperti Tiger yang notabene semi sport touring sehingga power terletak pada rpm 5000-7000 rpm, sejak rpm 1500 pun Harley sudah dapat menyentak dengan torsinya. Tapi jika rpm mulai menyentuh 5000an rpm, power akan terasa kosong. Ya sesuai dengan karakternya yang “long stroke”. Walaupun kapasitas mesinnya 1200cc tapi top-speed hanya sekitar 176kpj (motoriders) 160 kpj-an (bokap yang nyoba pas touring). This is not a race bike, this is daily use bike! Tapi apa dikata, kebanyakan rider Harley malah memakainya hanya saat-saat tertentu.

Cerita lain,pagi-pagi waktu “manasin” motor di jalan yang relatif kosong, gw coba tarik, Gigi 2 mampu 100 kpj. Lumayan lah (jangan ditiru…. Orang geblek…)

Pada saat lampu merah ada bapak-bapak naik bebek ngajak omong:

Bapak2: Ni motor kenceng ya
Gw: Hehehehe.. Biasa aja pak
Bapak2: Ni motor besar banget ya.. Pasti berat banget..
Gw: Gak kok pak, biasa aja…
Bapak2: Bensinya boros gak?
Gw: 1:15 sampek 1:20 bisa lah pak (Padahal gw belum pernah nyoba sih… Asal Bunyi doang :-D )
Bapak2: Oh, lumayan irit ya…

Lampu hijau menyala… Ddn sang bapak berlalu… yah, at least bisa bikin kesan positif :-D

Hal-hal remeh tentang Harley Davidson:

-Rem belakang lebih pakem daripada rem depan. Jadi gak bisa mengendarai dengan style pembalap aspal yang total mengerem dengan rem depan. Ditambah dengan Torsi terlalu besar, engine brake mendadak jadi tidak nyaman. Ditakutkan ban belakang bisa “spin” dan menghilangkan traksi ban belakang secara total.

-Masalah berat Harley Davidson sebetulnya tidak perlu terlalu diperhatikan, toh sudah dipikir oleh insinyur Harley dengan membuat HD seceper mungkin sehingga membuat handling jadi gampang dan tidak terasa berat jika ke ke-DUA kaki menopang bobot motor.

-Ban depan berkesan tidak memberi traksi yang bagus saat menikung.. Kayaknya lebih cocok dengan amerika yang lebih banyak jalan lurus dan tidak banyak tikungan.

-Suspensinya cukup “aneh” setelah di setel oleh bokap. Terasa sekali yang depan sangat empuk yang belakang mati. Akhirnya saya setel sendiri, tapi tetap yang belakang masih terlalu keras. Bahkan suspensi Tiger pun masih jauh lebih nyaman.. :(

-Pernah saya pakai ke kampus sekali, parkir dibarisan mobil. Walaupun agak was-was juga sih, soalnya gak ada kunci stang…

-Panas mesinnya terasa sekali di kaki, tapi tidak terasa mempengaruhi performanya tuh… bahkan mekanik rujukan HD pun mengatakan HD  lawas makin panas mesinnya, makin bagus performanya. Yah, saya cuma membaca sih, jadi percaya2 saja… :-p

-Getaran mesin bikin tangan kesemutan. Banget! … Parah! Masak baru 5 menit udah kerasa kesemutan?? (bukan pegel lo…)

-Perpindahan gear sangat kasar, tapi saya maklumi karena sudah menjadi trade-mark dan ini salah satu yang dicari HD-mania di luar negeri sono…

Apalagi pacar sudah mengancam kalau saya naik HD di depannya :-D .. Katanya “suaranya merusak kuping!!!”.. Padahal itu dalam keadaan stasioner dan knalpot standar HD.. Apalagi kalau sudah pakai knalpot costum atau aftermarket..

19
Jul

Moge buat harian? No Problem!

monster1.jpg 

Ini nyata, dan dilakukan di jakarta. Menggunakan motor Ducati Monster M600 berbobot mati 177 kg, Indobikers sudah seminggu terkhir ini berada di jakarta dan menjadikan moge sebagai kendaraan oprasional. Asalkan tahu trik bagai mana memanfaatkan tenaga sebesar 70 hp /7000 rpm yang dimiliki Monster, maka rute kemang - senayan city  dan pondok indah Mall menjadi hal sepele, bahkan bila dibandingkan dengan menggunakan Yamaha Mio Sekalipun.

Perpindahan gigi cukup satu, dua dan tiga

Meliuk liuk dikemacetan warung Buncit hingga Mampang bukan menjadi masalah buat Motor Ducati monster, asal kita terbiasa memainkan bukaan gas, melakukan over taking diantara mobil dan bus kopaja menjadi lebih mudah. Tidak pernah terasa under power saat melakukan over taking. Kalaupun ada halangan hanyalah ketika mobil menghalangi, tetapi cukup menggeber gas dua kali saat ingin mendahului, suara khas raungan mesin 2 silinder 600cc mau tidak mau membuat mobil di depan memberi jalan.  Masalah baru timbul, ketika ingin menyelinap diantara mobil saat lampu merah, karena memiliki ukuran yang besar dan lebar sebaiknya kita jangan latah dengan mengekor motor bebek di depan karena bisa bisa malah kita tersangkut diantara mobil mobil yang sedang berhenti. Mau tidak mau jika hal demikian terjadi sebaiknya kita ikut berhenti dan menunggu hingga mobil didepan mulai bergerak lagi. Saat lampu hijau tinggal masukan gigi 1, hingga kecepatan 35 km/jam baru pindahkan ke gigi 2. Jangan lupa sering sering melihat speedometer, karena saat mencapai kecepatan 80 km/jam sudah saatnya meemindahkan ke gigi 3. Praktikalnya selama mengarungi rute tersebut hanya gigi 1, 2 dan 3 lah yang terpakai sedangkan gigi 4 dan 5 hanya menjadi pengangguran saja.

Keutungan Memakai Moge.

Dibanding menggunakan motor Touring seperti Tiger Revo menggunakan moge sebagai kendaraan oprasional ada beberapa keuntungan, dua diantaranya adalah, pertama jika masuk Mall kita tidak perlu bersusah paya ketempat parkir, cukup parkir di lobby itupun kita tidak perlu membayar retribusi parkir. Kedua kita menjadi enggan berkendara ugal ugalan ataupun show off di jalan umum. Umumnya disebabkan karena ukuran besar speda motor membuat kita lebih berhati hati dalam mengendarainya.

Hal yang harus diingat.

Tenaga besar moge, dan halusnya penyaluran tenaga membuat kita lupa bahwa kita telah mengendarai speda motor terlalu cepat, segera kurangi kecepatan dan harus sering melihat speedo meter. Jangan mudah terpancing jika disusul oleh sepeda motor lainya. Selalu yakinkan diri anda bahwa, “motor anda pasti bisa menyusulnya jika anda mau  tetapi tidak untuk saat ini !”   Simpan nomor mekanik dan teknisi kepercayaan anda, karena bila mengalami permasalahan anda tinggal menelepon mereka untuk segera meminta bantuan mereka.

Perbandingan Gigi dan Kecepatan Monster 600*

  1. Perseneling 1 :   0   -  30 km/jam

  2. Perseneling 2 : 30   -  80 km/jam

  3. Perseneling 3 : 80   -  110 km/jam

  4. Perseneling 4 : 110 -  155 km/jam

  5. Perseneling 5 : 155 - 200 km/jam **

 *motor dalam kondisi standar dengan bensin penuh (16,5L) dan pengendara berukuruan 175/68 kg

**Gatot Subroto - minggu pagi pukul 7.00)

***Tidak dianjurkan mengemudi dengan kecepatan tinggi, apapun motor yang digunakan karena amat berbahaya, sebaiknya kecepatan 80-100 km/jam adalah kecepatan yang paling ideal.

 

24
Mei

Cagiva Mito 125 - Motor sports sejati

itom.jpg

Cagiva Mito 125 adalah motor sport sejati buatan Italy. Merupakan versi scale down dari Ducati 916, Mito yang artinya “Mitos” menggunakan mesin dua langkah berpendingin air. hampir semua fitur yang terdapat pada moge dapat ditemui pada Cagiva Mito. Mulai dari Sasis Alumunium Deltabox, lengan ayun pisang, suspensi depan upside down dari Marzzochi hingga rem cakram depan ukuran 320 mm dan rem cakram 180 mm dari Brembo merupakan fitur standar bagi Cagiva Mito. Meski hanya bermesin 125cc Cagiva Mito dapat menghasilkan tenaga 39 hp. Sehingga bobot 136kg dan ukuran ban 110/70×17 depan dan 150/60×17 belakang bukan menjadi beban bagi Mito namun justru mempermudah Mito dalam bermanuver. Sebagai tambahan, pada tahun 1995 ketika Cagiva masih aktif dalam Grand Prix Valentino Rossi merupakan pembalap yang menggunakan Cagiva Mito di kelas 125cc. Dengan tampilan seperti ini hampir tidak ada pemilik Mito di tanah air yang melakukan modifikasi radikal pada Cagiva Mito mereka. Bahkan banyak para modifikator yang melakukan modifikasi hanya untuk meniru tampilan Cagiva Mito 125.

Kekurangan sang Mitos 

Segudang fitur yang dimiliki Mito bukan berarti Mito menjadi motor yang sempurna. Untuk penggunaan harian bisa dikatakan Mito mendapat nilai merah dalam setiap kategori. Diawali dari posisi mengemudi yang terlalu merunduk, sehingga membuat pengendaranya cepat pegal, sekalipun si pengendara telah terbiasa mengendari Mito. Sebelas dua belas dengan pengendara, pembonceng malah lebih sial, berbeda dengan jok tingkat seperti pada Ninja 150 RR, jok pembonceng pada Mito hanya merupakan plastik yang dilapisi busa setebal 4mm, tidak terbayang rasanya bila melakukan peralan jauh sebagai pembonceng di atas Mito.

Beralih kepada pengendaraan, slip kopling menjadi hal biasa bagi pengendara Mito apa bila terjebak dalam kemacetan sehingga meskipun dalam kondisi berhenti  sering kali gigi Mito tidak bisa dinetralkan kecuali dalam kondisi mesin mati. Parahnya apabila pengendara sering menghidup - matikan mesin maka aki Cagiva Mito yang hanya 9v akan menjadi soak dan artinya pengendara harus bergaya seperti Valentino Rossi ketika ia berusaha menghidupkan motornya setelah terjatuh, karena Mito tidak memiliki kick starter. Bayangkan jika anda harus mendorong motor seberat 136kg di tengah kemacetan hanya untuk menghidupkan mesinya.

mimito.jpg 

Kalau sudah demikian bagai mana dengan konsumsi BBM ? tidak perlu kuatir, konsumsi Mito yang “hanya” butuh satu liter pertamax plus untuk menempuh jarak 10,5 km menjadikan Mito motor paling boros di kelasnya. Kalau pun jalanan lancar dan anda tidak menggeber Mito maka konsumsi BBM dapat ditekan hingga 1 liter untuk 15 km.

Lalu kenapa membeli Mito?

Kecepatan dan kepuasan! karena umumnya pemilik Mito memiliki kendaraan lain entah kendaraan roda emat atau roda dua untuk dipakai sehari hari. Kesimpulanya adalah jika anda sudah memiliki kendaraan lain untuk di gunakan sehari hari dan anda merupakan pencinta kecepatan serta punya uang sekitar 59 juta rupiah, tidak ada salahnya anda mencoba memesan Cagiva Mito untuk dipakai bertualang di akhir pekan.   




Jarak Tempuh

  • 1,252,925 Km

INDOBIKERS, Indonesian Bikers Community