
by - Wyren
Harley Davidson, motor yang selalu dimpor bulat-bulat dari negeri pama Sam ini selalu saja memiliki penggemar dan pem”benci”nya. Suaranya yang menggelegar sudah menjadi trade-mark. Bahkan penggemar Harley pun bisa membedakan suara HD dari Suara moge cruiser yang lain semacam Yamaha Road-star warrior atau Kawasaki Vulcan dengan mata tertutup. Bahkan jika menonton acara Nathional Geoghrapic tentang manufacturing Harley Davidson, Harley disebut sebagai salah satu jiwa Amerika. Hummmm… Kayaknya cukup basa-basinya.. Langsung ke main topic.
kondisi jalan di kota semarang tidak semrawut kota Jakarta, macetpun masih merambat pelan. Karena saya tidak suka ngambil cara Harley yang menggeber motor untuk ngambil jalan, mending sabar di barisan mobil. Kasihan bebekers yang keganggu sama deru HD kalo ngambil di kiri jalan. Bahkan saya kalau jalan hanya sekitar 2000an rpm gigi 3 atau 4..
Dari soal tampang dulu deh …
Karena motornya sudah dimodif “aneh”… Kenapa gw nyebut aneh? Soalnya tidak ada kesesuaian dalam perubahan modif ini. Tidak ada arah yang jelas. Bahkan berkesan bolt-on (karena beli). Stangnya kalo di katalog aksesoris HD drag style, tangki tear drop shape biasa, jok single seater berkesan cafe racer, and buntut style HD sportster lawas. Karena penasaran akhirnya gw tanya ke bokap.
Gw: Pah… ni HD sebetulnya stylenya apa sih?
Bokap: FUTURISTIK!
Gw : Waduhhhhh…
Kesan dan pesan …
Feeling pertama saat naik ke sadel (kuda besi) Harley adalah feeling gak nyaman. Karena kebiasaan saya selama 3 tahun adalah kaki mendekap tangki motor, motor Tiger tepatnya. Karena kaki merasa melayang, tetapi berbeda dengan naik bebek biasa yang kakinya juga melayang. Mungkin karena belum biasa juga sih. Tapi who cares? Toh gak akan sering saya pakai…
Setelah memutar bundaran dikomplek perumahan 1x, jalan raya pun akhirnya dijabanin juga. Setelah jalan beberapa kilometer menuju ke bengkel, saya mikir “ni motor gampang banget dikendarai !” Beneran! Gak perlu waktu dan tenaga untuk dapat meng-exploitasi kemampuan motor. Tidak seperti Tiger yang notabene semi sport touring sehingga power terletak pada rpm 5000-7000 rpm, sejak rpm 1500 pun Harley sudah dapat menyentak dengan torsinya. Tapi jika rpm mulai menyentuh 5000an rpm, power akan terasa kosong. Ya sesuai dengan karakternya yang “long stroke”. Walaupun kapasitas mesinnya 1200cc tapi top-speed hanya sekitar 176kpj (motoriders) 160 kpj-an (bokap yang nyoba pas touring). This is not a race bike, this is daily use bike! Tapi apa dikata, kebanyakan rider Harley malah memakainya hanya saat-saat tertentu.
Cerita lain,pagi-pagi waktu “manasin” motor di jalan yang relatif kosong, gw coba tarik, Gigi 2 mampu 100 kpj. Lumayan lah (jangan ditiru…. Orang geblek…)
Pada saat lampu merah ada bapak-bapak naik bebek ngajak omong:
Bapak2: Ni motor kenceng ya
Gw: Hehehehe.. Biasa aja pak
Bapak2: Ni motor besar banget ya.. Pasti berat banget..
Gw: Gak kok pak, biasa aja…
Bapak2: Bensinya boros gak?
Gw: 1:15 sampek 1:20 bisa lah pak (Padahal gw belum pernah nyoba sih… Asal Bunyi doang
)
Bapak2: Oh, lumayan irit ya…
Lampu hijau menyala… Ddn sang bapak berlalu… yah, at least bisa bikin kesan positif
Hal-hal remeh tentang Harley Davidson:
-Rem belakang lebih pakem daripada rem depan. Jadi gak bisa mengendarai dengan style pembalap aspal yang total mengerem dengan rem depan. Ditambah dengan Torsi terlalu besar, engine brake mendadak jadi tidak nyaman. Ditakutkan ban belakang bisa “spin” dan menghilangkan traksi ban belakang secara total.
-Masalah berat Harley Davidson sebetulnya tidak perlu terlalu diperhatikan, toh sudah dipikir oleh insinyur Harley dengan membuat HD seceper mungkin sehingga membuat handling jadi gampang dan tidak terasa berat jika ke ke-DUA kaki menopang bobot motor.
-Ban depan berkesan tidak memberi traksi yang bagus saat menikung.. Kayaknya lebih cocok dengan amerika yang lebih banyak jalan lurus dan tidak banyak tikungan.
-Suspensinya cukup “aneh” setelah di setel oleh bokap. Terasa sekali yang depan sangat empuk yang belakang mati. Akhirnya saya setel sendiri, tapi tetap yang belakang masih terlalu keras. Bahkan suspensi Tiger pun masih jauh lebih nyaman..
-Pernah saya pakai ke kampus sekali, parkir dibarisan mobil. Walaupun agak was-was juga sih, soalnya gak ada kunci stang…
-Panas mesinnya terasa sekali di kaki, tapi tidak terasa mempengaruhi performanya tuh… bahkan mekanik rujukan HD pun mengatakan HD lawas makin panas mesinnya, makin bagus performanya. Yah, saya cuma membaca sih, jadi percaya2 saja… :-p
-Getaran mesin bikin tangan kesemutan. Banget! … Parah! Masak baru 5 menit udah kerasa kesemutan?? (bukan pegel lo…)
-Perpindahan gear sangat kasar, tapi saya maklumi karena sudah menjadi trade-mark dan ini salah satu yang dicari HD-mania di luar negeri sono…
Apalagi pacar sudah mengancam kalau saya naik HD di depannya
.. Katanya “suaranya merusak kuping!!!”.. Padahal itu dalam keadaan stasioner dan knalpot standar HD.. Apalagi kalau sudah pakai knalpot costum atau aftermarket..
KOMENTAR