Arsip untuk Kategori 'komparasi'



13
Feb

Mega Komparasi : Astra Honda Motor vs Yamaha Motor Kencana Indonesia

gelut.jpg

Postingan kali ini untuk memfasilitasi kegatalan konsumen sepeda motor tanah air. Karena sangat tidak adil jika kita hanya membicarakan beberapa produk tanpa melihat latar belakang ATPM dan produsen dibelakangnya. Berbeda dengan produsen motor eropa yang cenderung mementingkan kualitas produk tanpa memikirkan keuntungan (nggak heran makanya Bimota, Benelli sampai MV Agusta sampai bisa bangkrut) di Indonesia ATPM disini tentunya mementingkan keuntungan sebesar besarnya diatas segala galanya baru kemudian kepuasan konsumen dan terakhir teknologi produk. Jadi komparasi kali ini kita menilai dua hal terakhir (kepuasan konsumen dan teknologi produk) tidak lupa dukungan perusahaan leasing yang juga mampu mendongkrak penjualan motor tersebut.

Sekilas - Astra Honda Motor

Berdiri pada tahun 1971 dengan nama PT Federal Motor kemudian berubah menjadi Astra Honda Motor pada tahun 2000 setelah melakukan merger. Memiliki 3 line produksi dengan mempekerjakan 13.027 orang karyawan. Kapasitas produksi AHM adalah 3 juta unit setahun. Telah memproduksi motor sebanyak 15 juta unit lebih.

  • Penjualan : Memiliki jaringan showroom di 30 propinsi sebanyak lebih dari 1500 dealer
  • Jaringan 3s : AHASS merupakan andalan AHM dalam memuaskan konsumen
  • Produk unggulan : Honda Supra dan Honda Megapro
  • Produk kebanggaan : Honda Tiger Revo
  • Produk ikon - legendaris : Honda Tiger 2000 dan Honda Astrea

Kunci sukses Astra Honda Motor

Setiap produsen tentunya memiliki strategi khusus dalam memasarkan produknya, AHM yang selama ini menguasai pasar domestik tentunya memiliki beberapa strategi khusus diantaranya

  • Promosi : Menonjolkan image sebagai motor paling hemat dikelasnya
  • Jaminan : Produk awet dengan suku cadang terjamin melalui AHASS

Kritik terhadap AHM

Pasti ada yang tidak puas terhadap ATPM satu ini, dan keluhan konsumen yang paling di suarakan antara lain

  • Produk outdated : Sering dianggap Jadul dan terlalu sering berganti baju dan minim fitur baru
  • Minim Variasi : Seuluruh produk AHM kebanyakan merupakan produk kuda beban


Sekilas - Yamaha Motor Kencana Indonesia

Berdiri pada tahun 1974. Kini memiliki 3 jalur perakitan dengan mempekerjakan sekitar 6.000 lebih karyawan. Kapasitas produksi YMKI adalah 3.500 motor per hari atau sekitar 1.277.000 motor setahun. Sampai dengan tahun 2006 telah memadati indonesia dengan memproduksi 5 juta sepeda motor.

  • Memiliki dealer lebih dari 800 buah yang tersebar di 30 propinsi
  • Jaringan bengkel dikenal dengan Bengkel Resmi Yamaha
  • Produk Unggulan : Yamaha Vega R, Yamaha Mio
  • Produk kebanggan : Yamaha V-Ixion
  • Produk ikon - legendaris : Yamaha RX-King dan Yamaha F1Z

Kunci sukses penjualan Yamaha

Ini dia resep Yamaha sehingga bisa menempel bahkan mengungguli penjualan Astra Honda Motor

  • Promosi : Menonjolkan image motor kencang dan sporti plus keterlibatan Valentino Rossi
  • Jaminan : Produk memiliki fitur canggih dan bervariatif untuk pasar lokal

Kritik terhadap YMKI

Bagi konsumen yang alergi terhadap produk YMKI antara lain disebabkan oleh faktor berikut

  • Penjualan : Butuh inden berbulan bulan terutama yang ingin membeli secara cash.
  • Perawatan dan image Yamaha bagi sebagian kalangan masih berada dibawah Honda

Kesimpulan

Demi menjaga objektifitas INDOBIKERS maka untuk pertama kalinya INDOBIKERS memberikan kesimpulan yang cukup bias yaitu : Bagi bikers yang hobi terhadap kecepatan dan fashion mungkin bisa pilih produk Yamaha Motor Kencana Indonesia sedangkan bagi bikers yang menggunakan motor sebagai alat trasnportasi titik atau untuk perusahaan mungki produk AHM masih jadi pilihan paling logis. Tetapi kesimpulan akhir tetap ditangan anda :-D

Note : Perusahaan Leasing ke dua ATPM berimbang jadi nggak ada komparasinya apalagi statistiknya :-D

08
Jan

Menanti Pertarungan antara Bajaj 125 XCD vs Suzuki Thunder 125

xcd.jpg 

Tahun 2008 ini kita menantikan pertarungan antara Bajaj vs Suzuki

Jika kita melihat kedua motor tersebut, nampaknya keduanya bertarung di kelas “kuda beban” alias motor oprasional. Artinya kedua motor ini lebih mementingkan reabilitas dan kenyamanan dibanding performa maupun penampilan. Kedua merk tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan. Bila Bajaj 125 Xcd memiliki keunggulan pada sektor penampilan, Suzuki Thunder memiliki keunggulan pada jaringan after sales service maupun jaminan referensi akan ketahanan mesin. 

Kalau Indobikers Pilih Pulsar 180 DTSi … Lho ?

Jika ada pilihan antara Bajaj 125 Xcd dan Thunder 125 Indobikers malah merekomendasikan Bajaj Pulsar 180 DTSi. Lho kok begitu? Tak lain karena faktor harga, maupun keunggulan performa. Karena bila ditimbang-timbang keunggulan 125 Xcd terhadap Thunder 125 hanyalah pada sektor penampilan lain tidak. Sehingga bila tujuanya sebagai “kuda beban” sepertinya Thunder 125 lebih cocok di jadikan andalan. Tetapi bila tujuanya lebih dari sekedar guna beban, maka kakaknya yang berkapasitas 180cc justru lebih mumpuni. Karena Pulsar 180 DTS-i memiliki keunggulan baik penampilan, performa maupun reabilitas yang lumayan teruji. Kesimpulanya untuk mendapatkan kuda beban yang baik Suzuki Thunder 125 lebih baik dibanding Bajaj 125 XCD, tetapi bila menginginkan motor yang multifungsi tidak ada salahnya memilih varian Bajaj 180 DTS-i , simply jangan tanggung tanggung deh

:mrgreen:  

25
Nov

Ini Motor Sport Paling Sempurna Bung !!!

yzr1.jpg

… untuk orang Indonesia sih :-D Sport 125cc, adalah motor sport paling cocok bagi orang indonesia. Karena disamping memiliki penampilan yang keren ukuran serta bobotnya benar benar pas buat ukuran dan jalanan di indonesia. Umumnya light Sportbike memiliki kapasitas mesin antara 125cc hinga 150cc. Dikelas ini mesin dua tak boleh jadi masih menjadi pilihan utama karena dari segi performa yang bisa ditelurkan umumnya emisi gas buang motor dua tak berkapasitas dibawah 150cc masih lolos uji emisis euro II & III.

Pilihanya banyak, kualitas ok, harga masuk Akal

Minimal pilihan motor sport ringan ada 5 jenis. Dari dataran jepang diwakili oleh Honda CBR 125, Kawasaki ZX 150 RR dan Yamaha YZ 125R. Sedangkan dataran eropa diwakili Aprilia Rs125 dan veteran Cagiva Mito. Berhubung kesemuanya merupakan produk asli pabrikan pusat (negara jepang dan italy) kecuali ZX 150 RR kualitas dan performa mereka dijamin pancen oye dan bebas cost down.

YZF 125R - Paling Gress

Sulit membedakan  antara YZF 125R dengan Yamaha R6. Karena tidak hanya desainya saja yang bak pinang dibelah dua, mulai dari posisi mengendara hingga bentuk knalpot juga persis seperti kakaknya yang berkapasitas 600cc. Mesin 4 tak, menggunakan sistem injeksi, bisa  menghasilkan tenaga sebesar 16 hp pada 9000 rpm. Merupakan pilihan alternatif dari Aprilia  125R, yang tidak kalah gressnya. Keterangan lebih lengkap ada di postingan dan klil di sini!

Performa - Pilih Cagiva Mito

Jika mementingkan performa, pilihan jatuh pada Cagiva Mito. Meski tergolong uzur karena telah diproduksi sejak tahun 1996 dan meniru Ducati 916 urusan performa Mito masih yang terbaik. Motor yang pernah dipakai Valentino Rossi di musim balap 1996 ini mampu menelurkan tenaga sebesar 37 hp. Kecepatan maksimum dengan melepas limiter adalah 205 km/jam. Tidak heran rem depan brembo berukuran 320mm dan belakang 220 menjadi piranti keselamatan standar. Cagiva Mito pun cukup populer dikalangan bikers tanah air baik sebagai motor harian ataupun batu loncatan sebelum beralih ke motor superbike. Sebagai catatan, Racing Kit Cagiva Mito tidak sulit untuk didapatkan lho! Penasaran? Bisa ke sini!

Honda CBR 125 R Sportbike -  Harian

Ini bukan CBR 150 yang sudah banyak beredar di pasaran lokal. Ini adalah CBR 125 dengan mesin DOHC. Deskripsinya sama persis denganCBR 150 yang sudah lama beredardi tanah air. Hanya saja penampilan frontal CBR 125 R ini total mirip dengan Honda CBR 1000 Fireblade. Dengan tenaga mesin secukupnya dan ukuran paling ramping motor ini betul betul sempurna untuk dijadikan motor harian dengan nuansa Sport. Lebih lanjut silahkan ke sini

Kawasaki ZX 150 RR - Paling Kompromi

Memilih motor sport untuk dipakai harian dan memiliki kemampuan mumpuni untuk dipakai pada kecepatan tinggi ? Kawasaki ZX 150 RR lah pilihanya. Karena dibanding rival rivalnya motor ini didukung penuh oleh ATPM kawasaki (tanpa bermaksud meremehkan ATPM Cagiva lho) Riding position terbilang wajar dan dengan mesin yang mampu menelurkan tenaga sebesar 30 hp, mesin dua tak buatan kawasaki ini pun terbilang bandel untuk dipakai dikemacetan. Jangan heran Flagship Kawasaki Indonesia ini mampu berkibar di tengah kepungan motor bermesin 4 tak.

Aprilia 125R - Rajanya Raja

Wah, ada Jorge Lorenzo di gatot subroto! Mungkin itu yang ada dipikiran orang yang melihat Aprilia RS 125 edisi 2006. Dengan livery “Spanish No1″ persis seperti yang terpampang di motor Jorge Lorenzo Aprilia 125 menjadi sebuah momok tersendiri. Desain yang mencontek habis kakaknya yang berkapasitas 1000 cc RSV Mille, penampilan Aprilia sulit dibedakan dengan kakaknya yang bermain di kelas superbike. Tenaga 35 hp siap mengantarkan pengendaranya pada kecepatan 200 km/jam . Mau lebih detail klik di sini

Pada Akhirnya …

Memilih salah satu dari motor tersebut sebenarnya  tidak sulit, karena dari segi ekonomis harga motor sports ini relatif tidak terpaut jauh, antara 32 hingga 50 juta rupiah dengan biaya oprasionalnya yang relatif sama. Tinggal bagai mana selera dan kebutuhan bikers tersebut. So silahkan pilih, karena ini memang yang terbaik dikelasnya kok!

18
Nov

Satria FU 150 = Simulator Superbike

satria_3.jpg

Mau tau bagaimana caranya anggota DDOCI berlatih di sirkuit sentul dalam rangka menghadapi kejurnas superbike nasional dan Ducati one make race? Berlatih menggunakan Suzuki Satria 150 FU di sirkuit Gokart Sentul. Kenapa memilih Suzuki Satria 150 FU sebagai sarana latihan ? Sebenarnya alasanya cukup tiga saja.

Satria 150 FU = Performa tinggi harga terjangkau 

Seperti yang telah banyak dibicarakan orang terutama dikalangan bikers di tanah air mengenai keunggulan Suzuki Satria 150 FU dibanding merk lain. Penggunaan Satria 150 FU sebagai Superbike Simulator semakin mengokohkan bahwa Satria FU memang memiliki keunggulan mutlak dibanding motor motor yang beredar di pasaran tanah air. Secara rinci inilah tiga alasan mengapa justru Satria FU yang dipilih bukan Ninja RR (unggul performa) ataupun Bajaj yang memiliki ukuran cukup besar. 

Faktor Harga

Sebenarnya bisa saja berlatih menggunakan Ducati Superbike 999 ataupun 1098. Tetapi mengingat harga motor tersebut yang begitu tinggi plus perasaan nggak tega melihat motor langka tersebut dipakai jumpalitan di sirkuit maka dipilih lah motor dengan harga yang cukup terjangkau namun memiliki performa seperti superbike.  

Performa FU Begitu Garang

Dengan bobot yang begitu ringan, tenaga besar plus sedikit pengurangan bobot membuat performa FU menjadi semakin garang. Satria FU pun dengan dukungan teknologi sasis deltabox dan suspensi monoshocknya pun memiliki handling ditikungan layaknya motor Superbike.  Ibarat sekali tepuk dua nyawa FU mampu mensimulasi dua faktor terpenting dalam dunia sport kelas superbike, akselerasi dan kesetabilan di dalam hal menikung.

Gampang di Up grade 

Pengurangan bobot, penggantian knalpot free flow, ban racing plus oprek mesin dengan syarat memiliki biaya terjangkau menjadi makanan sehari hari bagi motor yang berhabitat di sirkuit. Motor yang mampu memikul beban berat  tersebut dengan mudah adalah Satria 150 FU. Karena pada dasarnya platform dan rancang bangun Satria FU adalah untuk keperluan sport jadi jangan heran kenapa banyak pembalap superbike dan supersport nasional yang menggunakan FU dikala berlatih untuk mensimulasikan motor superbike.

Secara Objektif : FU yang terbaik

So, kurang apalagi? Sepertinya pengakuan akan keunggulan performa Satria FU sebagai platform motor balap maupun sebagai motor harian telah terbukti. Apalagi banyak sekali pihak profesional dan bikers mengakui akan keunggulan Satria FU. Tidak seperti motor lainya, yang hanya mendapat pujian dari penggunanya, Satria FU mungkin hanya satu satunya motor yang mendapat pengakuan yang datang tidak hanya dari penggunanya tetapi justru datang dari pihak yang tidak menggunakan FU sebagai tungganganya (tidak hanya Ducati riders, ternyata bikers superbike Honda, Yamaha dan Kawasaki ternyata juga menggunakan FU sebagai simulator) jadi memang, dari segi objektifitas FU memang yang terbaik! :-D 

28
Okt

Agresivitas “Pulsarian” terhadap “Tigerian”, Lho kok?

revo.jpg

Serangan Pulsar Rider Terhadap Tiger Rider

Setelah diperhatikan, selama kurang lebih setengah tahun belakangan ini, baik di Indobikers maupun di Kafemotor selalu saja setiap ada postingan yang berbau Honda apalagi menyangkut Honda Tiger selalu saja dipenuhi komentar yang menyerang motor Tiger. Postingan komentar tersebut diikuti pujian setinggi langit terhadap Pulsar. Entah pelakunya adalah memang seorang ”Pulsarian” baca : pengendara pulsar, atau hanya seseorang yang ingin memanaskan suasana saja. Bahkan lucunya seringkali postingan yang tidak ada sangkut pautnya terhadap Pulsar dan Tiger pun berujung pada “serangan” Pulsar terhadap Tiger :-?

Yang lebih aneh adalah seringkali terjadi serangan terhadap aplikasi teknologi pada motor lain yang tidak terdapat atau berbeda dengan teknologi Pulsar. Sebagai contoh adalah cacimaki mengenai teknologi  suspensi monoshock oleh seorang yang mengaku pengendara Pulsar  terhadap motor yang menggunakan suspensi unitrak (tau kan motor apa?) yang notabene masih pengembangan monoshock. Mulai dari ketahanan suspensi tersebut hingga komentarnya yang menganggap suspensi monoshock tidak memiliki keunggulan fungsional sama sekali. Entah karena Pulsarnya menggunakan suspensi twin shock atau semata mata hanya untuk memanaskan suasana blog ini. Sebagai tambahan masalah suspensi akan dibahas kemudian secara khusus.

Fakta : Pulsar = Tiger

Faktanya secara garis besar dan dari kacamata netral hampir semua spesifikasi yang ditawarkan  pada Pulsar ada pada Tiger. Mulai dari teknologi sasis cradle box, suspensi twin shock, rem cakram hidraulis hingga riding position pun hampir serupa. Yang jadi perbedaan adalah, si macan memiliki harga overprice dan si serigala adalah pendatang baru dengan harga yang cukup murah. So berdamailah wahai Serigala dan Macan! he he he :-D

22
Agt

Raja Street Fighter di Indonesia

montorjpg.jpg

Street Fighter, konsep apakah itu ? 

Motor favorit di kalangan bikers di indonesia adalah motor bernuansa sport-cruiser. Tetapi sebenarnya julukan motor sport-cruiser tak lain berasal dari istilah “Street Fighter” yang artinya “Petarung Jalanan”. Disebut demikian karena motor berkonsep  street fighter merupakan adaptasi dari motor superbike namun mengalami beberapa penyesuaian agar mampu bermanufer di jalanan umum namun tidak kehilangan performa sebagaimana motor superbike. Berbagai jenis motor rakitan lokal yang menggunakan konsep street fighter sebagai acuan kini menjadi motor favorit dikalangan bikers antara lain Bajaj Pulsar, Honda Tiger Revo,Kawasaki Ninja 150 dan yang paling segar yaitu Yamaha Vixion.

Penyesuaian yang dilakukan terbilang cukup sederhana. Pertama adalah melepaskan fairing depan sehingga dapat memamerkan mesin motor yang berukuran besar dan terlihat kekar tersebut. Langkah kedua yaitu menyesuaikan riding position agar pengendara tidak terlalu cepat lelah ketika motor harus bermanufer di kepadatan lalulintas. Langkah yang terakhir adalah dengan menyesuaikan mesin agar lebih memiliki torsi dan semburan tenaga pada rpm lebih rendah, karena pada motor superbike tenaga maksimum baru di peroleh ketika jarum tackometer mencapai pada angka 10-13 sedangkan untuk motor street fighter tenaga maksimum dapat di raih pada putaran mesin menengah yaitu pada kisaran 7.000 hingga 9.000 rpm.

The Real King of Street Fighter

Tidak banyak motor street fighter beredar di indonesia, kalaupun ada dalam jumlah yang signifikan pun hanyalah berasal dari dua merk asal Italy yaitu Cagiva dan Ducati. Walau demikian populasi motor tersebut setelah digabungkan tidak lebih dari 150 unit.

Cagiva Raptor 650 / 1000

Dirancang oleh Miguel Angel Galuzzi yang juga merupakan perancang Ducati Monster menjadikan motor buatan Cagiva ini begitu mirip dengan Ducati Monster. Kalaupun ada perbedaan yang kasat mata adalah pada bentuk tangki bensin yang memiliki bentuk mengotak. Selebihnya semuanya persis dengan Monster.

Perubahan radikal baru terjadi ketika Cagiva mengeluarkan varian V-Raptor. Baik sasis dan mesin sebenarnya tidak berubah. Namun fairing mini berbentuk trapesium menjadi ciri khas Cagiva V-Raptor. Sebagai catatan penting yaitu seluruh varian Cagiva Raptor dan V-Raptor menggunakan mesin suzuki SV 650 dan TL 1000. Hal ini dilakukan oleh cagiva untuk menghemat biaya produksi dan meningkatkan reabilitas motor.

Varian Street Fighter Cagiva : Raptor 650,1000  V-Raptor 650,1000  Xtra-Raptor 1000 Carbon dan X3 Raptor 1000

Ducati Monster Family

Juga dirancang oleh Miguel Angel Galluzi, Monster pertama kali di perkenalkan kepada publik pada tahun 1993. Mulai dikenal oleh publik setelah menjadi kedaraan harian Dennis Rodman dalam film Simon Sez pada tahun 1996. Awalnya Ducati Monster merupakan Varian Street Fighter dari Ducati Pantah  namun kemudian Monster menggunakan varian superbike 916 sebagai basis produksi. Kini seluruh varian Monster menggunakan mesin superbike sebagai sumber tenaganya. Jadi jangan heran jika melihat Monster yang berkonsep street fighter dapat dengan mudah mengasapi Honda CBR 1000RR atau Yamaha R1  

Kebalikan dari Astra Honda Motor yang hobi menggonta ganti baju produknya, Ducati justru hobi menggonta ganti mesinya. Bahkan bagi seorang ducatisti pun sulit membedakan varian mesin yang satu dengan yang lain. Untuk urusan penampilan luar hanya ada dua varian dasar yang dapat dibedakan, pertama adalah varian berkode M yaitu dengan swing arm normal dan yang ke dua adalah Monster dengan berkode SR yang menggunakan swing arm tunggal.

Varian Ducati Monster : M400, M600 Dark/ie, M620 Dark/ie/Sie, M 695, S4 1000,S2R 800,S2R 1000, S4R 1000, S4Rs 1000, S4Rs 1000 Tetastretta 

Pilih Mana ? Raptor atau Monster

Sebenarnya keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan masing masing. Tetapi untuk “pemain” di segmen ini mungkin perbedaan harga (baru) 50-100 juta rupiah bukan menjadi masalah. Konsumsi bbm yang lumayan “hemat” karena berada pada kisaran 1L untuk 10/18 km pun bisa menjadi topik yang bicarakan. Yang menentukan adalah selera dan emosional bikers itu sendiri.

Pilih Raptor jika …

  1. Menyukai model motor yang agak sedikit nyeleneh dan Futuristis

  2. Tidak mau repot, karena reabilitas mesin Suzuki SV 650 atau TL 1000 sudah terbukti pancen oye.

  3. Gemar mengendarai harian, karena radius puntir Raptor lebih besar dibanding Monster

  4. Penggila modfikasi, harga Baru Raptor terpaut 95 juta dengan Monster, selisih uang tersebut bisa dugunakan untuk biaya modifikasi.

Beli Monster Jika …

  1. Menyenangi motor berdesain neo classic 

  2. Kemakan gengsi, karena brand Ducati sedikit berada diatas Cagiva

  3. Speed Freaks, mesin superbike pada Monster meski rewel tetapi jauh lebih perkasa dibanding mesin Raptor.

  4. Senang dengan aksesoris,karena komunitasnya lebih luas jadi pernak pernik orisinal mudah di dapat.

Catatan Menarik : 

  • Harga Cagiva Raptor termurah adalah keluaran tahun 2002 di bandrol mulai dari Rp 85.000.000 (Raptor 650)

  • Harga Ducati Monster termurah adalah keluaran tahun 2000 di hargai mulai dari Rp 80.000.000 (M 600 Dark)

 

15
Agt

Pulsar Vs Satria FU … Duet Sang Raja

tinju.jpg

Sepertinya dua motor inilah yang menjadi favorit bikers di tanah air. Jika di kelas light cruisers dikuasai Pulsar maka di kelas bebek dikuasai oleh Satria FU. Keduanya memiliki persamaan mendasar, tetapi keduanya juga memiliki perbedaan yang tidak kalah hebatnya. Karena itu sangat sulit melakukan komparasi head to head secara langsung untuk membuktikan mana yang terbaik di kelasnya.

Persamaan Pulsar dengan Satria FU

  • Dua duanya menjadi produk superior di kelasnya masing masing, setelah menggeser kedigdayaan Tiger, Pulsar seolah menjadi raja di kelas light cruiser. Disaat yang bersamaan Satria FU melanjutkan keperkasaan  Satria 120 di kelas bebek

  • Dikelas  masing masing, kedua merk tersebut tidak memiliki lawan sepadan jika pada Satria FU adalah dari segi performa dan kapasitas mesin sedangkan pada pulsar adalah pada value for money dan penampilan meski yang terakhir sedikit merupakan pandangan yang subjektif

  • Satria FU dan Pulsar memiliki kisaran harga yang serupa sehingga kadang membingungkan konsumen, apakah akan memilih produk bebek terbaik atau membeli motor light cruiser terbaik.

  • Untuk urusan after sales servicenya keduanya masih berada dibawah Honda dengan AHMnya dan Yamaha dengan YMKInya. Tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi superioritas keduanya mengingat kedua produk menawarkan teknologi, performa serta value for money yang menggiurkan.

  • Kecepatan dan tenaga mesin yang dihasilkan oleh kedua motor tersebut relatif sama meski keduanya memiliki rancangan yang amat berbeda

 

Perbedaan Pulsar dengan Satria FU

  • Usia Indomobil sebagai ATPM Suzuki serta konsistensi nya telah terbukti karena Suzuki sudah lama hadir di Indonesia, sedangkan Bajaj Auto Indonesia masih berusia seumur jagung sehingga faktor inilah yang sering mengalihkan konsumen Bajaj kepada produk lain

  • Pulsar 180 DTSi adalah motor Light Cruiser yang mengedepankan kenyamanan dan kemampuan menjelajahi medan untuk waktu yang cukup lama, sedangkan bagi Satria FU lebih mengedepankan performa tinggi serta kemampuan motor bermanufer di kota sehingga ibarat seorang atlet, Pulsar adalah pelari marathon sedangkan Satria FU adalah sprinter

  • Suzuki Satria FU berasal dari Jepang yang telah dikenal sebagai salah satu negara industri otomotif paling maju didunia yang telah mampu menembus pasar eropa, bahkan tidak jarang produk Jepang mampu mempecundangi produk eropa. Orientasi Jepang merupakan expansionis yang lebih mengutamakan export tidak heran bahwa politik dumping dianggap berasal dari Jepang.  Sedangkan Bajaj Pulsar berasal dari India yang notabene masih berstatus negara dunia ke tiga, diluar kemampuannya mengembangkan teknologi maju di bidang militer dan kuatnya industri otomotifnya itu lebih dikarenakan asistensi negara eropa semisal Russia, dan besarnya populasi di India mengakibatkan daya beli masyarakat akan produk domestik juga turut berperan memperkuat industri otomotif mereka.   

Kini Tinggal Selera yang berbicara

Jika memang kedua produk merupakan produk terbaik di kelasnya dan tidak memiliki pesaing yang signifikan maka kini tinggal masalah selera, emosional dan emosi yang berbicara oh ya tidak lupa bahwa harus berdasarkan tujuan oprasional. Jadi jangan sungkan memilih keduanya toh dua duanya merupakan produk yang terbaik (sejauh ini) di kelasnya masing masing. :-D

06
Agt

Bajaj Pulsar, Mana Kelebihanya ???

plsa.jpg

-by Wyryoko- 

SERANGAN SPORADIS TERHADAP PULSAR !!! 

Sejak pertama kali di luncurkan pada akhir 2006 seakan Bajaj Pulsar 180 DTSi mendapat pujian tidak berhenti dan seolah olah menjadi sebuah mahakarya baru, tetapi apakah memang benar demikian? Atau malah pembodohan terhadap konsumen gaya baru ala Bollywood ? Bagi Pulsarian yang terkenal setia mati dan agresif bila Pulsarnya mendapat kritikan, ditunggu pembelaanya oke!

Teknologi DTSi itu …

Oke, Digital Twin Spark Pulg Ignition ini memang sebuah teknologi tulen milik Bajaj dan sudah di patenkan, dan terbuti mampu menekan volume pengunaan konsumsi bbm tetapi apakah teknologi tersebut merupakan sebuah mahakarya yang bila diaplikasikan mampu membuat perubahan performa yang signifikan, seperti halnya teknologi katup demodromic ducati ataupun big bang nya Honda. Sebagai catatan tekonologi seperti itu diaplikasikan di ajang balapan seperti moto GP atau GP 500 sehingga meski tidak merefleksikan secara langsung tetapi ajang motor sports tetap menjadi ajang untuk unjuk kebolehan teknologi pabrikan motor. Disaat yang sama dengan berbagai alasan Bajaj justru enggan untuk berpartisipasi di ajang balapan tersebut.

Penghargaan Semu Bajaj …

  • Bike of the Year 2007 CNBC-TV18 Autocar Auto Awards
  • Bike of the Year 2005 2005 OVERDRIVE Awards 2005
  • Indigenous Design of the Year 2005 OVERDRIVE Awards 2005
  • Bike Maker of the Year 2004 ICICI Bank OVERDRIVE Awards 2004
  • Auto Tech of the Year 2004 ICICI Bank OVERDRIVE Awards 2004
  • Bike of the Year 2004 ICICI Bank OVERDRIVE Awards 2004
  • BBC World Wheels Viewers Choice Two Wheeler of Year 2003 BBC World Wheels Award 2003

Memang, Pulsar memiliki banyak penghargaan tetapi apakah penghargaan tersebut lebih dikarenakan bajaj bersaing di mana negara industri maju seperti Jepang dan Italy tidak ikut serta di dalamnya. Kalaupun beberapa produk buatan mereka ikut didalam kategori yang sama tetapi produk yang diikut sertakan dalam persaingan bukanlah produk utama melainakan sub produk yang dirancang khusus untuk dipasarkan di negara tertentu, ambil contoh Honda Tiger Revo, di negara asalnya Tiger Revo tidak di jual belikan apalagi di produksi karena memang tidak memenuhi standard Jepang melainkan hanya merupakan sub produk Honda yang khusus di produksi di Indonesia. Jangan lupa Bajaj pun memiliki produk lain seperti Kinetic Comet yang bermain di kelas 250cc. Dengan bermain pada kapasitas mesin yang sama mana berani Bajaj head to head melawan Honda Hornet 250! Oh ya hampir lupa Bajaj belum pernah mendapat penghargaan dari institusi otomotif terkemuka eropa apalagi  Jepang.

Performa 180cc DTSi yang pas pasan …

Banyak yang bilang Performa Bajaj 180 DTSi luar biasa, baik di dalam penyaluran tenaganya maupun kesetabilanya tetapi tenaga  16,5 hp dari mesin 180cc bukanlah hal yang bisa dibanggakan meski bukan hal yang memalukan. Tapi coba bandingkan dengan Suzuki FXR 150 Satria 150 FU yang mampu menghasilkan tenaga 16,3 hp dengan kapasitas mesin yang lebih kecil dan denganbobot yang jauh lebih ringan dibanding Pulsar, dan yang terakhir ini bebek bro!

Mana Fiturnya ?!!

  • Digital Speedo dan Lampu sein otomatis

Sepintas keren, apalagi buat konsumen indonesia yang mudah terkagum kagum dengan melihat hal yang baru, tetapi justru inilah titik kelemahan pada Pulsar. Karena dalam kondisi tertentu justru malah bikin sulit untuk dilihat, untuk ini silahkan liat postingan di kafemotor. Ongkos produksi speedometer digital pun lebih murah dibanding analog! Lampu sein otomatis mungkin awalnya untuk memudahkan namun terbukti justru bikin repot, hal ini justru keluar dari mulut pemakai pulsar itu sendiri! 

  • Penampilan Bajaj yang besar dan berat

Sekalilagi perlu di ingat, Bajaj di rancang untuk pasar India dan ukuran fisik orang india berukuran lebih besar dibanding orang asia tenggara pada umumnya sehingga tidak heran Pulsar memiliki ukuran yang cukup bongsor bila dibandingkan motor Indonesia -Lisensi Jepang.   Tapi bagaimana tongkrongan Pulsar entah 180 - 220 bila dibandingkan produk asli jepang semisal Honda Hornet 250 ataupun Cagiva Raptor 125 pikir sendiri deh!

Bobot 139 kg pada mesin 180cc itu bukan hebat, melainkan ibarat seorang pemuda yang mengalami obesitas akibat primitifnya kandungan besi  pada pulsar yang belum mengenal istilah bahan komposit. Akibatnya Pulsar 180 Dtsi mengalami kesulitan dalam berlikaliku di kepadatan lalulintas.

  • Tanpa suspensi monoshock apalagi unitrak dan cakram belakang

Pemilik bajaj berdalih bahwa  suspensi dual shock pada bajaj luar biasa empuk, tetapi sebenarnya didalam hati mereka tentunya lebih memilih memiliki suspensi monosock dibanding suspensi ganda. Terbukti banyak orang memodifikasi suspensi motornya menjadi monoshock, tetapi mana ada orang yang memodifikasi motornya dari monoshock menjadi dual shock. Ini karena biaya pembuatan sasis dan swing arm untuk menopang motor yang menggunakan suspensi monoshock lebih mahal karena dibutuhkan sasis yang lebih kuat untuk menopang teknologi suspensi tersebut. Belum lagi keandalan suspensi monoshock atau unitrak dalam melibas berbagai medan baik di sirkuit maupun jalan tidak rata.

Lagi lagi efisiensi yang dilakukan Bajaj dengan Pulsar 180 DTSi nya, meski faktanya motor tersebut mampu dihentikan dengan sebuah rem cakram depan dan tromol belakang tetapi demi meningkatkan penampilan apa salahnya sih memasang rem cakram belakang pada serigala india yang satu ini ?

  • Jaringan 3S dan Image yang perlu dibangun

Meski mulai menjamur tetapi jaringan 3S Bajaj masih jauh dibawah pasukan Yakuza, apalagi bila dibandingkan Suzuki, Yamaha apalagi Honda disamping itu faktor image dimasyarakat Bajaj pun masih cukup lemah sehingga satu satunya cara menarik konsumen adalah memberikan harga yang “murah” dan penampilan berbeda, karena tampil beda merupakan keinginan kebanyakan masyarakat di indonesia.

Kesimpulanya : Beli Bajaj Pulsar ? Tergantung deh !

Membeli produk baru memang beresiko, tetapi apa yang telah ditawarkan Bajaj Pulsar bukan lah hal yang luar biasa, mengingat minimnya fitur plus harga murah yang ditawarkan. Karena dengan keterbatasan fitur yang dimiliki, performa yang pas pasan diperburuk dengan masih keterbatasan dukungan after sales servicenya, harga 16,5 juta rupiah memang merupakan harga yang “adil” bagi sebuah produk yang memiliki fitur pas pasan. Bila harga 16,5 juta  diberikan kepada Yamaha V-ixion atau Honda Tiger Revo barulah menjadi hal yang luar biasa! Buat Pulsar, harga yang “cuma” segitu terasa cukup adil kok baik buat konsumen maupun produsenya !

:) - Indobikers says : Biar lebih asik, biar dibandingkan dengan beberapa postingan orisinil INDOBIKERS sebelumnya, setuju!

http://ducatimonster.wordpress.com/2007/06/12/raja-cruiser-bajaj-pulsar-180-dtsi-vs-honda-tiger-revo/#comment-2583 

http://ducatimonster.wordpress.com/2007/05/29/pilih-mana-pulsar-dtsi-vs-suzuki-satria-150-fu/

 

02
Jul

Aprilia RS125 Raja 125cc

apriliajorgelorenzo.jpg

Siapa yang tidak kenal motor Aprilia? Meski populasinya terbilang sangat sedikit yang beredar di tanah air tetapi kepopuleran motor buatan italia ini tidak kalah dibanding motor buatan Jepang yang memiliki populasi jauh lebih banyak. Berbeda dibanding produsen motor lainya semisal Honda, Yamaha Kawasaki bahkan Ducati sekalipun yang mendapat kepopuleran melalui iklan maupun produk motor jalan rayanya, Kepopuleran motor aprilia di Indonesia maupun di negara lainya di diperoleh murni dari keikut sertaan mereka di ajang balap motor. Sebut saja Max Biaggi, Valentino Rossi maupun Tony Elias bahkan hampir semua pembalap yang sukses di ajang balap MotoGp pernah merasakan menjadi juara di atas motor Aprila.

Motor Sport Tulen

Dibanding varian RS 125 terdahulu, RS 125 keluaran tahun 2006 memiliki perbedaan yang signifikan. Tidak hanya merubah striping tetapi seluruh penampilan motor berubah total. Mulai dari Fairing yang merupakan replika dari Aprilia RSV Mille hingga penggunaan velg “Y” hanyalah sebagian kecil perubahan yang dilakukan Aprilia pada varian RS 125.  Penggunaan sasis full alumunium berwarna krom hingga fairing model baru yang membungkus rapi mesin RS 125. Buritan berbentuk tawon ciri has Aprilia ditinggalkan. Kini buritan RS 125 persis menyerupai buritan RSV Millie Nera.

Mesin 124,8cc memang terkesan kecil tetapi mesin yang menggunakan karburator dell”orto 54×54 tersebut mampu mengeluarkan tenaga sebesar 34 hp pada 9500 rpm serta torsi sebesar 28nm pada 8000 rpm sehingga jangan heran jika akselerasi motor ini mampu menyamai akselerasi Ferarri F360 modena yaitu 4,5 detik untuk mencapai kecepatan 0-100km/jam,

Suspensi depan upside down bawaan Aprilia dan sasis alumunium serta ban depan berukuran 110/70×17 dan ban belakang berukuran 150/60×17 membuat pengendara Aprilia RS 125 leluasa bermanuver baik pada lintasan lurus maupun tikungan tajam. Seperti motor sport buatan Aprilia pada umumnya, RS 125 merupakan Circuit and Racing ready sportbike. Sehingga bila sewaktu waktu pemilik motor ingin membawa motornya untuk berpartisipasi dalam balapan di sirkuit bisa dikatakan tidak ada perubahan signifikan yang perlu dilakukan kecuali mengganti fairing depan racing dan melepas piranti penerangan. Selain itu sepertinya tidak ada yang perlu dilakukan, kecuali bersiap siap untuk mengikuti balapan.

Satu lagi yang menarik pada RS 125 adalah penggunaan spedometer analog digital. Tetapi berbeda dengan analog digital pada Bajaj Pulsar ataupun Satria 150 Fu yang hanya asal analog ditambah digital. Pada RS 125 Speedometer digital juga berfungsi sebagai OBC atau on board computer yang biasa terdapat pada mobil mewah eropa. Fungsinya tidak hanya memberitahu kecepatan, jumlah bensin ataupun sisa jarak tempuh. Tetapi OBC pada RS 125 memiliki fungsi sebagai telemeteri dan penghitung lap - tidak terlalu berguna pada penggunaan harian, namun jika digunakan dalam sirkuit OBC pada RS 125 merupakan sebuah anugrah yang tak ternilai harganya.

Untuk keperluan sehari hari, ternyata RS 125 cukup bisa diandalkan. Meski sindrom pegal-pegal pada pergelangan tangan masih terjadi, tetapi jok baik bagi pengendara maupun penumpang ternyata cukup nyaman. Karena busa pada jok RS 125 lebih tebal dibandingkan jok pada NSR 150 Sp, Ninja RR apalagi Mito. Knalpot terletak di sebelah kiri dilapisi silincer alumunium berukuran besar, sehingga ketika di gas penuh justru raungan merdu mirip motor 4 tak lah yang terdengar bukan jeritan melengking ciri khas mesin 2 tak. Dalam keadaan standard saja RS 125 mampu memenuhi standar emisi EURO II. Dengan sedikit penyesuaian pada catalic converter maka standar emisi EURO III dapat dilewati oleh RS 125.

aprs4.jpg

Hanya bisa ditandingi oleh Cagiva Mito

Kalaupun ada produk yang mampu menandingi kedigdayaan Aprilia Rs 125 hanyalah Cagiva Mito 125. Itu pun dikarenakan Rancang bangun Cagiva Mito menggunakan basis Ducati 916. Disamping itu bila dibandingkan kesuksesan Aprilia RS125 di ajang grand prix, bagaikan langit dan bumi. Meski sempat di perkuat Valentino Rossi pada musim balap 1994 keikutsertaan Cagiva Mito di ajang balap 125 terbilang gagal total, tidak heran pada tahun 1996 hingga saat ini Cagiva absen pada ajang grand prix.

Penampilan RS 125 jauh lebih futuristis dibandingkan penampilan Mito 125, mengingat perbedaan kedua jenis motor terpaut 12 tahun lebih. Disamping itu meski memiliki tenaga yang lebih kecil dibandingkan Mito (37hp), RS 125 mampu menyalurkan tenaga ke roda belakang secara merata dan halus. Amat berbeda dengan Mito yang terkesan liar dan meledak ledak. Untuk urusan warna dan striping, RS 125 lebih bervariatif. Mulai dari warna hitam merah, putih hitam, silver abu abu hingga Jorge Lorenzo replika dengan tulisan Spansish no1 seolah olah memberi tahu calon konsumen RS 125 bahwa motor buatan mereka tidak perlu repot repot untuk dimodifikasi.

Harga Motor Aprila RS 125 memang sedikit lebih mahal dibanding motor sport jepang pada umumnya. Namun harga $6000 AUD atau sekitar 42 juta rupiah merupakan tawaran menarik, mengingat harga Mito 125 saja mencapai $6500 AUD. Penampilan segar Aprilia 125 dan banyaknya opsi pilihan warna sepertinya merupakan pilihan yang menggiurkan bagi penggemar motor sport di tanah air.

italian-war.jpg

Link : Galeri RS 125 - 06 Nera Replika

Klik : http://indobikers.wordpress.com/2007/07/02/aprilia-rs125/

12
Jun

Raja Cruiser … Bajaj Pulsar 180 DTSi vs Honda Tiger Revo

 

Topik terhangat saat ini adalah banyak bikers yang membanding bandingkan Tiger Revo vs Pulsar 180 DTSi. Banyak yang bilang Tiger Revo adalah motor kuno dan under performance tetapi banyak juga yang mencibir Bajaj Pulsar identik dengan kendaraan umum beroda tiga yang juga bernama Bajay.

Bajaj Pulsar 180 DTSi

Pendatang baru di dunia otomotif Indonesia. Bajaj merupakan salah satu raksasa otomotif India hadir ke indonesia dengan mengandalkan Bajaj Pulsar 180 DTSi sebagai ujung tombak produk mereka. Sadar akan statusnya sebagai pendatang baru, Pulsar yang bermesin 180cc memiliki harga yang termurah dibanding motor jenis cruiser yang sekelas. Tetapi apakah bisa motor yang baru berumur setahun ini pantas dinobatkan sebagai rajanya motor cruiser di tanah air ?

Honda Tiger Revo

Penerus dari sang raja tua, Tiger 2000 ini hadir dengan perubahan minor di banding pendahulunya. Hal ini memang mendapat banyak kritik terutama dari penggemar sepeda motor. Salah satunya adalah akibat penggunaan mesin Tiger 2000. Tetapi tentunya pihak Astra Honda Motor sudah memiliki pertimbangan tersendiri akan keputusanya tersebut. Akankah si raja tua mampu mempertahankan mahkotanya terhadap serbuan serigala muda.

Komparasi Statistik Vital  Tiger Revo vs Bajaj Pulsar

Apakah keunggulan tersebut membuat Honda Tiger Revo lebih unggul dibanding Bajaj Pulsar?

Belum tentu ! Karena meski memiliki keunggulan pada statistik vital, ada beberapa hal yang yang dapat menjadi bumerang bagi keunggulan Honda Tiger Revo terhadap Bajaj Pulsar 180 DTSi. Karena ada beberapa faktor nonteknis yang dapat mentahbiskan sebuah motor menjadi motor yang terbaik.

Faktor ATPM

Keberadaan Astra Honda Motor yang berpengalaman lebih dari 30 tahun  dan secara konsisten meningkatkan kualitas pelayanan terhadap konsumen merupakan jaminan tersendiri terhadap konsumen. Jaringan service dan suku cadang AHASS yang tersebar di seluruh penjuru dan kota di Indonesia semakin membuktikan superioritas AHM atas PT Bajaj Motor Indonesia yang baru berusia 2 tahun dan memiliki jaringan servis kurang dari 100 unit.

Faktor Image

Faktor inilah yang menjadi palu godam terhadap Bajaj Pulsar. Honda yang berasal dari negara maju dan mendominasi berbagai ajang kejuaraan dunia motor sports mulai dari Moto GP, World Superbikes hingga Enduro semakin mengukuhkan superioritas Honda terhadap Bajaj, yang justru absen di seluruh ajang ke juaraan dunia motor sports. Ditambah buruk dengan identiknya Bajaj dengan kendaraan umum beroda tiga yang juga bernama BajaY. Disamping itu sudah menjadi hukum alam dimanapun berada, dikalangan apapun faktor image juga menjadi penentu laku tidaknya sebuah produk di pasar.

Terkait : http://ducatimonster.wordpress.com/2007/06/07/image-andalan-atpm-dalam-menjaring-konsumen/

Faktor Harga

Harga Tiger Revo 23 juta rupiah yang berarti terpaut 6,5 juta rupiah dengan Bajaj Pulsar menjadi sebuah tanda tanya bersar bagi AHM. Meski pun memiliki keunggulan image maupun jaringan suku cadang dan service bukan berarti Tiger Revo berhak dihargai 6,5 juta lebih mahal dibanding Bajaj Pulsar. Apalagi perbedaan fitur keduanya hanya dibedakan dengan kehadiran rem cakram belakang pada Revo, rasanya semakin membuat ganjil terhadap price list yang diberikan AHM kepada Tiger Revo.

Kesimpulan Akhir Antara Tiger Revo dengan Bajaj Pulsar

Kesimpulan ini diambil berdasarkan perbandingan diatas dan berdasarkan data data yang diambil dari berbagai sumber. Apalagi INDOBIKERS mencoba senetral mungkin karena memang INDOBIKERS tidak memiliki ikatan emosional terhadap merk Honda dan Bajaj.

Pengandaian pertama adalah jika kedua motor kita bandingkan tanpa mengikut sertakan faktor non teknis seperti faktor  dukungan ATPM, jaringan service dan Image. Sehingga hanya membandingakan Tiger Revo seharga Rp 23 juta rupiah dengan Pulsar seharga Rp 16.5 juta rupiah, tetapi keduanya hadir tanpa embel-embel nama besar Honda dan Bajaj. Terus terang dengan fitur yang ditawarkan dan faktor harga saya akan memilih Pulsar 180 DTSi.

Pengandaian yang kedua adalah dengan mengikut sertakan faktor non-teknis tetapi dengan dikuranginya harga Honda Tiger Revo  menjadi Rp 20 juta rupiah pas. Sedangkan harga Bajaj Pulsar dibiarkan tetap 16,5 juta rupiah. Dengan dukungan ATPM dan nama besar, INDOBIKERS rela merogoh kocek tiga juta rupiah lebih mahal demi mendapatkan motor cruiser dengan dukungan ATPM dan image yang kuat di masyarakat.  

Untuk kesimpulan akhir tidak bisa menggunakan pengandaian, tetapi harus berdasarkan fakta dan kenyataan. Meskipun unggul di semua lini, kecuali faktor performa menurut saya harga Tiger Revo yang terpaut 6.5 juta rupiah tetap terlalu mahal dan tidak relevan dengan fitur motor yang ditawarkan. Sehingga meski tipis Bajaj Pulsar 180 DTSi sedikit berada didepan dibanding Honda Tiger Revo yang agak terlalu mahal . . . Setuju ?  

28
Mei

ITALY vs JEPANG … Bagusan Jepang kok !!!

brutale.jpg 

Apakah kualitas motor buatan Jepang lebih buruk daripada motor buatan Italy? Sehingga produsen utama Italy seperti Ducati dan Aprilia berhak memasang harga dua kali lipat lebih mahal dibanding produk serupa yang dibuat oleh produsen Jepang? Terus terang saja, anggapan motor Italy lebih bagus dari buatan Jepang itu betul betul salah …

Anggapan demikian bakal menjadi hal yang lumrah apabila keluar dari pemilik motor Jepang, tapi anehnya anggapan tadi keluar dari pemilik motor Italy itu sendiri … Lho???

Faktor Kualitas dan Reabilitas    Jepang 2 : Italy 0

Oke, kalau kita ngebahas masalah kualitas buatan tentu saja yang namanya harga biasanya nggak bakal bohong. Detail motor buatan Italy sedikit lebih baik dibanding buatan Jepang. Hal ini bukan menjadi nilai plus buat motor buatan Italy namun sudah menjadi keharusan buat mereka membuat hal yang demikian, kenapa? Dengan mematok harga yang dua kali lipat lebih mahal tentu saja mereka memberi alesan bahwa produk mereka adalah rakitan tangan tanpa bantuan mesin. Jadi istilahnya yang namanya hand made  pasti lebih baik dari pada buatan mesin.

Jika membahas reabilitas, jangan ditanya deh! Oli mesin ngerembes pada motor baru, hanya karena si motor tidak dipakai selama setengah bulan, apakah hal yang demikian pernah terjadi pada motor buatan Jepang? kayaknya sih gak mungkin terjadi, kecuali motor tersebut habis masuk jurang! Tapi hal tersebut sangat lumrah buat motor buatan Italy bahkan untuk varian Monster sekalipun, yang dianggap sebagai motor paling reliable diantara produk Ducati lainya. Itu baru yang pertama, masalah kemacetan lalu lintas  juga menjadi nilai minus tambahan buat produk Italy. Pernah lihat Kawasaki Ninja RR mogok hanya karena overheat?  Kebalikanya, buat motor buatan Italy malah dianjurkan untuk mematikan mesin apabila sedang terjebak di kemacetan untuk menghindari overheat, tak peduli dia memiliki radiator sebesar papan karambol! Sialnya sistem hidup - mati mesin demi menghindari overheat ini berimbas pada aki motor yang menjadi cepat soak. Karena umumnya motor italy tidak punya kick starter jadi begitu aki soak, maka si pengemudi harus bergaya seperti Valentino Rossi yang mendorong - dorong motornya setelah terjatuh hanya untuk menghidupkan mesin … hiks! 

Penampilan dan Performa   Jepang 2 : Italy 2

Untuk dua faktor ini bolehlah kita mengacungkan jempol untuk motor Italy. Penampilan mereka memang jauh lebih gagah dibanding motor buatan jepang yang sekelas. Coba aja bandingin Honda NSR SP vs Cagiva Mito atau Kawasaki Ninja 150 RR vs Aprilia RS 125 tentu berbeda jauh bukan? Tidak lain karena untuk urusan fitur motor buatan negeri spageti ini tidaklah pelit. Suspensi upside-down, sasis deltabox alumunium dan ban ukuran besar sudah menjadi standar, meskipun ini juga terkait dengan standar keamanan eropa yang sangat ketat.

Pernah lihat balapan indonesian road-race di sentul pada awal tahun 2000an? Waktu itu pesertanya menggunakan Kawasaki Ninja KRR yang di korek abis dan memakai full racing kit ditambah pembalap kenamaan, Yamaha TZM dengan kondisi sama persis dengan KRR cuma bedanya jokinya lebih beken lagi. Mereka melawan pasukan merah Cagiva Mito yang hanya dilengkapi velg almunium dan karburator dell orto 28mm. Meski hanya 125cc dan diperkuat pembalap seadanya tapi mereka mampu menghabisi pasukan Jepang tanpa ampun. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah tenaga dan torsi mesin standar motor sport buatan italy hampir 20% lebih besar dari motor buatan Jepang, teknologi sasis mereka pun  lebih mumpuni jadi tidak heran hal yang sama terjadi di sirkuit.

Value For Money dan Jaringan 3 S    Jepang  4  : Italy  2

Untuk yang satu ini, silahkan lihat sendiri di jalanan. Dan jawabanya pun langsung ketemu, Kalo motor Italy itu tidak laku karena harga mereka yang terlalu mahal dan jaringan 3 S mereka yang amburadul. Tidak perlu kuatir, bahkan di Eropa pun hal yang sama berlaku. Yang lebih ironis lagi adalah motor yang beredar di Italy sendiri adalah 60 Persen merupakan motor buatan Jepang. Di Indonesia sih hal biasa, kalau namanya motor buatan Italy sampe ngalamin kerusakan mesin, minimal setengah bulan tu motor bakalan nganggur, gak peduli merk tersebut di dukung ATPM atau tidak, tapi itu faktanya sih.   Apakah hal yang sama terjadi sama buatan Jepang? hmm belum pernah tuh rasanya ngedenger hal yang seperti itu terjadi kalau pun ada pasti sudah rame di beritakan di media peliput dunia otomotif.   

kwsaki.jpg

Kesimpulannya adalah …

Konsumen motor Jepang umumnya lebih bijak dalam memilih produk, meskipun pilihanya adalah motor yang memiliki Value for Money paling rendah diantara jajaran produk Jepang, Tetapi pilihannya lebih baik dibanding produk buatan Italy. Bagi pengguna motor Italy, mereka sebenarnya lebih memiliki ikatan emosi tersendiri dengan Produk buatan Italy. Mengesampingkan segala macam faktor, passion for the brand lah yang mereka kejar, karena ibarat sebuah karya seni buatan manusia, “kecacatan merupakan bagian dari perasaan, dan dengan persaanlah yang membedakan manusia dengan mesin” 

 

24
Mei

Cagiva Mito 125 - Motor sports sejati

itom.jpg

Cagiva Mito 125 adalah motor sport sejati buatan Italy. Merupakan versi scale down dari Ducati 916, Mito yang artinya “Mitos” menggunakan mesin dua langkah berpendingin air. hampir semua fitur yang terdapat pada moge dapat ditemui pada Cagiva Mito. Mulai dari Sasis Alumunium Deltabox, lengan ayun pisang, suspensi depan upside down dari Marzzochi hingga rem cakram depan ukuran 320 mm dan rem cakram 180 mm dari Brembo merupakan fitur standar bagi Cagiva Mito. Meski hanya bermesin 125cc Cagiva Mito dapat menghasilkan tenaga 39 hp. Sehingga bobot 136kg dan ukuran ban 110/70×17 depan dan 150/60×17 belakang bukan menjadi beban bagi Mito namun justru mempermudah Mito dalam bermanuver. Sebagai tambahan, pada tahun 1995 ketika Cagiva masih aktif dalam Grand Prix Valentino Rossi merupakan pembalap yang menggunakan Cagiva Mito di kelas 125cc. Dengan tampilan seperti ini hampir tidak ada pemilik Mito di tanah air yang melakukan modifikasi radikal pada Cagiva Mito mereka. Bahkan banyak para modifikator yang melakukan modifikasi hanya untuk meniru tampilan Cagiva Mito 125.

Kekurangan sang Mitos 

Segudang fitur yang dimiliki Mito bukan berarti Mito menjadi motor yang sempurna. Untuk penggunaan harian bisa dikatakan Mito mendapat nilai merah dalam setiap kategori. Diawali dari posisi mengemudi yang terlalu merunduk, sehingga membuat pengendaranya cepat pegal, sekalipun si pengendara telah terbiasa mengendari Mito. Sebelas dua belas dengan pengendara, pembonceng malah lebih sial, berbeda dengan jok tingkat seperti pada Ninja 150 RR, jok pembonceng pada Mito hanya merupakan plastik yang dilapisi busa setebal 4mm, tidak terbayang rasanya bila melakukan peralan jauh sebagai pembonceng di atas Mito.

Beralih kepada pengendaraan, slip kopling menjadi hal biasa bagi pengendara Mito apa bila terjebak dalam kemacetan sehingga meskipun dalam kondisi berhenti  sering kali gigi Mito tidak bisa dinetralkan kecuali dalam kondisi mesin mati. Parahnya apabila pengendara sering menghidup - matikan mesin maka aki Cagiva Mito yang hanya 9v akan menjadi soak dan artinya pengendara harus bergaya seperti Valentino Rossi ketika ia berusaha menghidupkan motornya setelah terjatuh, karena Mito tidak memiliki kick starter. Bayangkan jika anda harus mendorong motor seberat 136kg di tengah kemacetan hanya untuk menghidupkan mesinya.

mimito.jpg 

Kalau sudah demikian bagai mana dengan konsumsi BBM ? tidak perlu kuatir, konsumsi Mito yang “hanya” butuh satu liter pertamax plus untuk menempuh jarak 10,5 km menjadikan Mito motor paling boros di kelasnya. Kalau pun jalanan lancar dan anda tidak menggeber Mito maka konsumsi BBM dapat ditekan hingga 1 liter untuk 15 km.

Lalu kenapa membeli Mito?

Kecepatan dan kepuasan! karena umumnya pemilik Mito memiliki kendaraan lain entah kendaraan roda emat atau roda dua untuk dipakai sehari hari. Kesimpulanya adalah jika anda sudah memiliki kendaraan lain untuk di gunakan sehari hari dan anda merupakan pencinta kecepatan serta punya uang sekitar 59 juta rupiah, tidak ada salahnya anda mencoba memesan Cagiva Mito untuk dipakai bertualang di akhir pekan.   




Jarak Tempuh

  • 1,643,429 Km

INDOBIKERS, Indonesian Bikers Community