
Dunia balap, tidak melulu di identikan dengan olah raga adu kebut dan susul menyusul, apalagi bila dihubungkan dengan balap grand prix yang notabene adalah ajang balapan profesional dimana tidak hanya pembalap tetapi pabrikan dan sponsorpun dituntut untuk selalu memberikan yang terbaik bagi tim nya.
Balap Adalah Ajang Pembuktian Performa,Teknologi dan Gengsi
Bagi produsen otomotif ajang balap adalah sebuah cara paling gampang untuk membuktikan bahwa produknya lebih superior dibanding pabrikan lainya. Meski tidak secara langsung dapat mengaplikasikan teknologi balap pada produk massalnya, namun bila sebuah pabrikan mampu memenangkan balapan apalagi gelar juara dunia maka secara langsung gengsi pabrikan tersebut akan terangkat, karena dangan menjadi juara artinya produsen tersebut mampu membuktikan bahwa pihaknya mampu membuat sebuah produk yang begitu superior dan sempurna. Hal ini berujung pada image bahwa produk keluaran pabrikan tersebut merupakan produk yang berkualitas dibanding produk lainya.
Win On Sunday Sell On Monday
Anggapan ini populer di amerika pada tahun 1950-70an namun nampaknya hal ini juga terjadi di dunia roda dua. Sebagai contoh nyata adalah penjualan Ducati pasca beberapa kemenangan Stoner di moto GP awal 2007 lalu, hal ini berimbas dengan melonjaknya penjualan motor Tersebut yang mencapai hampir 2 kali lipat. Meskipun sampai saat ini jumlah Ducati masih dibawah angka 200 unit namun pengaruh dominasi Ducati di motoGP berimbas pada penjualan motor tersebut. Hal yang sama ternyata juga berlaku di Australia dan Amerika Serikat.
Tidak Perlu Menjadi Pabrikan Raksaksa Untuk Terjun di Grand Prix
Mungkin Honda, Yamaha, Suzuki dan Kawasaki merupakan pabrikan motor terbesar di dunia dan sudah lumrah bagi pabrikan seukuran mereka untuk terjun di balapan, namun bagaimana dengan pabrikan kecil seperti Aprilia, Ducati maupun KTM ? Namun ternyata meski merupakan produsen motor liliput bila dibandingkan kwartet Jepang bukan menjadi penghalang bagi pabrikan kecil tersebut untuk ikut serta di dalam ajang Grand PRix. Bahakan dalam beberapa tahun terakhir justru pabrikan kecil tersebut mampu mengambil alih dominasi pabrikan raksasa jepang untuk kemudian tampil sebagai Juara Dunia.
Apa Alasanya Bajaj Tidak Ikut Balapan ?
Pabrikan Raksasa, dengan pasaran yang mendunia dalam arti memiliki pasaran luas dimana dukungan finansial besar untuk modal turun di grand prix bukan menjadi masalah bagi Bajaj, nampaknya masih belum mampu membuat Bajaj Pe-De untuk ikut berkompetisi di ajang balap paling bergengsi yaitu Moto GP atau bahkan Gp 125 ataupun 250.
Di Dunia Grandprix Produsen Tidak Bisa Berdalih “Kami Kalah Karena Melakukan Cost Down”
Entah karena takut bahwa bila produknya kalah bersaing akan berimbas pada kepercayaan diri konsumen, namun bukan berarti kealpaan Bajaj dari ajang motor sport dunia akan dapat di tolelir begitu saja. Karena lambat laun hal ini akan membuat kesan bahwa bajaj hanyalah produsen otomotif yang hanya mampu membuat produk yang laku dipasaran tanpa mampu membuktikan bahwa produknya memiliki performa yang dapat bersaing dengan produk pabrikan lainya. Ingat, secara simbolis dan gengsi, untuk menunjukan kemampuannya sebuah produsen dalam membuat motor berperforma tinggi adalah melalui partisipasi di ajang balap. Tidak ada istilah cost down ataupun target market di sini, “pokoknya” its all about competing and winning.
Memuaskan Konsumen, Sekaligus Pembuktian : Bisakah Bajaj Membuat Motor Hi Performance ?
Padahal rasanya sudah sewajarnya Bajaj berani untuk terjun ke dunia balap grand prix. Karena sudah sewajarnya bagi Bajaj memuaskan dahaga konsumenya yang sudah barang tentu ingin melihat brand kesayanganya bersaing di ajang grand prix. Alasan Bajaj selama ini hanyalah karena ingin memperkuat brand image dan memuaskan konsumen. Faktanyal salah satu cara bagi pabrikan untuk memperkuat brand image adalah dengan cara ikut Balapan. Malu dong dengan pabrikan kecil seperti Derbi, Gilera atau bahkan Loncin , meski dua pabrikan pertama hanyalah pabrikan yang bisa dibilang kerdil, namun mereka masih gentlemen untuk bersaing melawan muka muka lama. Toh usaha mereka tidak sia sia, karena mereka terbukti mampu bersaing dan bahkan meraih kesuksesan ! Apakah anggapan para pecinta motor Jepang selama ini benar bahwa bajaj tidak mampu membuat motor hi perfomance ? Karenanya dengan 1001 alasan pihaknya absen dari dunia balap ?
Jadi gimana Bajaj ? Semangat Dong !!!
KOMENTAR