Arsip untuk Juni, 2007



10
Jun

Sisi Positif Honda Tiger Revo

Meski akhir akhir ini produk keluaran Astra Honda Motor mendapat kritikan tajam disana sini, sebenarnya ada beberapa sisi positif yang dimiliki produk keluaran Honda, salah satunya dari varian  Tiger Revo. Meski memiliki teknologi usang dan hanya berganti cassing, tapi masih ada juga  yang membeli motor nya kan?  Berarti dengan segala kekurangan di sana sini masih ada sisi positif yang bisa diambil dari produk AHM yang satu ini.

Teknologi dan penampilan Honda Tiger Revo

Tidak banyak perubahan yang dilakukan oleh pihak AHM ketika mempensiunkan Honda Tiger 2000 dan menggantinya dengan Honda Tiger Revo. Bahkan perubahan yang dilakukan oleh AHM pada penampilan bisa dihitung dengan sebelah tangan. Tapi ternyata perubahan tersebut cukup efektif, terutama dimata orang awam. Perubahan yang paling terlihat jelas adalah pada bentuk panel, yang tadinya minimalis, kini menjadi lebih maximalis bahkan bisa dikatakan menjadi mirip dengan Honda CBF 250. Pemasangan velg CW dan rem cakram belakang memang sepintas langkah sederhana, namun itu sudah cukup untuk membuat penampilan Tiggy Revo menjadi lebih kekar. Suspensi belakang standar diganti oleh suspensi Air Cushion, membuat motor menjadi sedikit terlihat hi-tech. Dengan perubahan yang dilakukan tersebut membuat Tiger Revo memiliki tampilan yang cukup sangar dan wibawa terutama di banding motor lainya yang sekelas.

Untuk urusan mesin, dan sasis memang tidak berubah. Tetapi ada hal positif yang dapat diambil disini. Sasis Tiger 2000 terbukti cukup andal, terutama untuk di pakai di perkotaan. Meskipun mesin Tiger dikenal tidak lincah dan cenderung lamban, namun untuk pemakaian di dalam kota dengan kisaran kecepatan 60 - 80 km/jam dijamin mesin rancangan awal tahun 90an ini masih cukup memadai. Apalagi mengingat kesamaan dasar rancangan dengan Tiger 2000 baik mesin maupun sasis membuat konsumen dan mekanik AHM tidak kesulitan untuk mengganti suku cadang ataupun memperbaiki Tiger Revo. Yang bisa dijadikan catatan adalah, AHM membuat motor dengan penampilan yang cukup sangar sekaligus untuk menutupi performa mesin yang agak kurang. Barang kali AHM menarik kesimpulan dari moge. Karena umumnya moge memiliki penampilan yang besar dan berwibawa, moge tidak perlu sprint atau ngebut untuk menunjukan performanya, cukup hanya dengan melihatnya saja sudah bisa menjelaskan performa yang dimiliki moge tersebut.  Atas dasar pemikiran inilah AHM merasa cukup hanya merubah penampilan luar  Tiger Revo dan mengabaikan peningkatan teknologi dan performa mesinya.  

Kenapa Membeli Tiger Revo ?

Ada tiga alasan Tiger Revo masih memiliki banyak konsumen. Pertama adalah kesetiaan pada brand Honda. Kedua adalah alasan ekonomi, dan yang terakhir adalah karena ketidak tahuan akan perkembangan teknologi.

  • Kesetiaan pada Brand Honda.

Untuk alasan yang satu ini memang sering terjadi. Tapi umumnya hanya terjadi pada konsumen motor besar (moge) Eropa atau Amerika seperti Harley-Davidson, Ducati atau Mv Agusta. Hal ini bisa dimaklumi karena umumnya konsumen moge membeli motor hanya untuk having fun dan bukan digunakan untuk kendaraan harian. Namun kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Honda memiliki sejarah panjang pada dunia roda dua di Indonesia, sehingga tidak sedikit orang yang menggunakan motor Honda secara turun temurun, sehingga memiliki ikatan emosional pada brand Honda. Jangan lupa meski tidak didukung penuh oleh ATPM Honda, Tiger memiliki fans club yang cukup besar di tanah air dengan anggota ribuan orang, yaitu HTML.  

  • Faktor alasan Ekonomis

Dengan luasnya jaringan servis dan suku cadang Honda di Indonesia, membuat konsumen Honda Tiger Revo merasa tenang bahwa motornya tidak akan mendapat kesulitan apabila mereka mengalami kerusakan dimanapun mereka berada. Apalagi kesamaan mesin dan sasis Tiggy Revo dan Tiggy 2000 yang sudah teruji ketahananya juga akan memudahkan mekanik dalam memperbaiki kerusakan dan mengganti suku cadang. Semuanya berimbas pada harga jual kembali Honda Tiger Revo yang cukup tinggi bila dibanding motor dari merk lainya yang sekelas.  

  • Ketidak tahuan konsumen akan teknologi.

Kalau yang terakhir ini mungkin sangat relatif. Namun bagi orang yang tinggal di daerah terpencil ataupun bagi mereka yang baru memulai menjadi bikers, memiliki motor berpenampilan jantan dan gagah adalah hal yang lumrah. Sehingga penampilan luar Honda Tiger Revo yang lebar dan kekar bagaikan gayung bersambut. Asumsi bahwa motor dengan tampilan sangar biasanya memiliki performa dahsyat pun turut mempengaruhi pilihan mereka. Ambil contoh termudah, ketika berhenti di lampu merah, jika kita lihat penampilan Tiggy Revo yang lebih kekar jika dibandingkan motor lainya semakin membuat terpesona para konsumen awam tersebut.  Sayangnya jika konsumen awam tersebut membeli Tiger Revo dengan tujuan tidak hanya untuk penampilan, namun juga untuk performa tentunya mereka akan merasa kecewa dengan motor barunya.

Kesimpulanya : Beli Tiger Revo atau pilih motor merk lain?

Jika anda merupakan  orang yang setia dengan produk Honda dan mengedepankan faktor ekonomi, kenapa tidak? Ikatan emosional antara bikers dengan merk motor tidak bisa dikesampingkan. Jaringan purna jual AHM yang luar biasa luas dan harga jual kembali yang tinggi pun tidak bisa dilewatkan begitu saja. Penggunaan mesin lama yang sudah teruji kemampuanya juga menambah faktor “aman” dalam membeli motor. Apalagi jika anda membeli Tiggy Revo untuk menjadikanya kuda besi harian dan tidak berniat memakainya untuk kebut kebutan, dijamin anda tidak akan kecewa dengan pilihan anda. Tiger Revo memang motor yang berpenampilan elegan untuk konsumen yang mapan…setuju?

Tetapi jika anda bikers yang masih mencari bentuk, dalam arti masih mencari motor yang sempurna dari segi penampilan dan performa sebaiknya anda menjauhi showroom motor berlambang sayap. Karena dijamin anda akan kecewa berat. Masih ada ATPM lain yang menawarkan produk yang jauh lebih bermutu dibanding Tiger Revo. Bajaj contohnya, kesampingkan image Bajaj yang masih minus. Namun Pulsar 180 DTSi menawarkan penampilan yang tidak kalah sangar dibanding Tiggy. Dari sisi performa apalagi, Pulsar dengan kapasitas mesin lebih kecil dan harga yang jauh lebih murah dijamin lebih superior dari Tiggy.   Atau mungkin jika anda masih kurang yakin dengan Bajaj masih ada kok Yamaha V-ixion dan Suzuki 150 FU. Meski V-ixion terlihat kurus dan FU adalah bebek, namun dengan performa yang mereka miliki dijamin dapat mempermakukan Tiger Revo dengan sangat sangat mudah.

 

07
Jun

Image, andalan ATPM Dalam Menjaring Konsumen

Banyak cara yang dilakukan oleh ATPM dalam menjaring konsumen. Salah satu cara yang dilakukan oleh ATPM dalam menjaring konsumen adalah membangun image. Karena image merupakan salah satu faktor penentu utama dalam pemasaran sebuah produk. Bahkan di negara Uni eropa yang penduduknya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi justru  pengaruh image sebagai faktor penentu laku tidaknya suatu produk mencapai 60 persen (survey TopGear 2004). Bahkan Richard Hammond, salah seorang presenter dan pengamat dunia otomotif terkenal asal Inggris mengatakan ”…anda bisa memasang logo BMW pada bangkai kucing dan menjualnya seharga 10 ribu pound, percayalah anda tidak akan kesulitan untuk mencari orang untukmembelinya…” (Richard Hammond dalam BBC Top Gear).

Faktor image karena nama besar

Di Eropa dalam hal ini di negara Jerman, yaitu negara produsen otomotif nomor satu di dunia juga terjadi hal yang sama. Kita ambil contoh dari dunia otomotif roda empat. Produsen otomotif terkemuka asal Jerman yang kita kenal saat ini antara lain Audi, BMW, Mercedes Benz dan Volkswagen. Tentunya produsen tersebut memiliki produk unggulan yang merupakan lambang dan simbol dari brand yang diusungnya. Produk Flagship ini dibuat secanggih dan semewah mungkin oleh produsen mobil mewah tersebut untuk menciptakan image bahwa brand mereka merupakan yang paling mewah dan yang terdepan dibanding brand lainya. Audi mengandalakan varian A8, Bmw dengan Seri 7, Mercedes dengan dinasti S Klasse, dan Volkswagen dengan Vw Phaeton. Harga produk flagship tersebut sangatlah mahal, bahkan untuk ukuran harga mobil buatan Jerman sekalipun. Sehingga umumnya konsumen dari produk tersebut tak lain adalah CEO dari perusahaan besar ataupun para profesional seperti dokter, pengacara ataupun superstar sepakbola. Namun uniknya meski memiliki konsumen dengan latar bekalang pendidikan yang tinggi,  mereka (konsumen) tetap termakan image produk tersebut. Sebagai contoh nyata, meskipun kualitas pembuatan dan keamanan Vw Phaeton dan Audi A8 berada jauh di atas Mercedes S Klasse, namun volume penjualan Mercedes S Klasse yang memiliki kualitas buatan paling buruk dibanding yang lain berada paling tinggi, kemudian berturut turut di susul Bmw Seri 7, Audi A8 dan terakhir Vw Phaeton, yang ironisnya justru memiliki kualitas buatan yang paling baik. Hal ini tak lain karena image Vw yang terlanjur dikenal sebagai produsen mobil rakyat (Volks=rakyat, Wagen=mobil). Konsumen produk tersebut yang umumnya berada dari kalangan atas tetap lebih mementingkan image dibanding kualitas produk. Sebagai catatan, meski untuk varian Vw Phaeton berada paling rendah dalam volume penjualan mobil mewah, tetapi secara keseluruhan penjualan produk Vw berada paling atas.   

Image yang tertanam secara turun temurun

Perbedaan antara negara uni eropa dan Indonesia tidak jauh berbeda. Bahkan di Indonesia sempat terjadi fenomena selama tiga dekade dimana pengaruh image merupakan faktor penentu utama dalam pemasaran kendaraan roda dua.  Hal ini dialami oleh produk speda motor Honda. Ketika itu pada tahun 70an hingga awal tahun 80an dimana saat itu  umunya pendukuk Indonesia masih sulit mendapat informasi tentang perkembangan teknologi speda motor di negara luar sehingga mereka hanya bisa mengetahui perkembangan speda motor yang ada di dalam negeri saja. Bagai gayung bersambut, Honda yang saat itu menghadirkan speda motor yang sangat inovatif pada waktu itu, yaitu Honda C90. Saat itu umumnya speda motor hanya hadir dalam model touring (tangki berada di antara kursi dan setang) sehingga menyulitkan bila digunakan kaum hawa.  Dengan hadirnya Honda C90 sebagai pionir motor bebek di tanah air membuat produsen speda motor lainya ikut serta di ajang yang sama. Hanya saja karena Honda yang saat itu berada di bawah naungan PT Federal Motor Indonesia merupakan importir pertama motor bebek dan disaat yang sama kualitas buatan Honda lebih baik dari produk lainya membuat image Honda melambung bagaikan roket di kalangan masyarakat. bahkan hingga pertengahan tahung 90an masyarakat pada umumnya menyebut motor bebek dengan sebutan “Honda Bebek”. Generasi pemakai motor Honda tahun 70 dan 80an pun akhirnya memiliki kenangan indah dengan Honda, sehingga di saat mereka memiliki keturunan, tak jarang sebagai orang tua mereka menyarankan pada anak anak mereka untuk membeli produk Honda. Pada awal tahun 90an, produk Honda yang saat itu di wakili oleh Astrea Grand, Star serta GL Pro dan GL max mulai mendapat tantangan dari produsen lainya, yaitu Suzuki dengan varian Tornado dan Yamaha dengan keluarga F1Z nya. Namun Honda saat itu sigap, karena  mereka mengetahui , meskipun performa produk saingan lebih baik dari produk Honda namun produk andalan Suzuki dan Yamaha tersebut menggunakan konfigurasi mesin 2 langkah yang notabene lebih boros. Ditambah bencana krismon yang menerpa tanah air di tahun 1997 dengan membuat image bahwa produk Honda paling irit maka mereka mampu mempertahankan keunggulan penjualanya dari serbuan ATPM lainya. Bahkan hingga kini Honda terkenal sebagai produsen motor yang membuat motor paling irit dikelasnya.  

Image yang di bangun dengan promosi

Kini dominasi Honda mulai goyah, produsen yang mampu menggoyahkan dominasi Honda adalah Yamaha. Mereka melakukan hal tersebut dengan membuat image bahwa produk Yamaha merupakan produk berperfroma tinggi. Tidak saja dengan memasang iklan di televisi tapi juga di dunia balap. Tidak tanggung tanggung, Valentino Rossi pun di boyong untuk memperkuat image tersebut. Terbukti berhasil, setelah 3 tahun habis habisan membangun image mereka lewat dunia balap kini Yamaha berhasil menyamai jumlah penjualan Honda di tanah air. Untuk mempertahan image tersebut, kini pembalap muda berbakat asal Sleman, Doni Tata di ikut kan dalam kancah Gran Prix dunia dengan membawa panji Yamaha. Meski tidak seextrim Yamaha, peningkatan volume penjualan Suzuki juga terjadi setelah mereka memperkenalkan bebek Hyperbone, Suzuki 150 FU. Keberhasilan Yamaha dalam menggeser Honda sebagai market leader meski hanya sebentar patut diacungi jempol. Karena prestasi tersebut didapat tidak secara instan, namun membutuhkan waktu bertahun tahun. Kesuksesan Yamaha membangun image lewat promosi juga terbantu dengan berbagai macam peningkatan mutu, kualitas dan teknologi produk hingga kesuksesan di dunia balap. Tetapi faktor lain turut membantu Yamaha dalam membangun image juga diakibatkan karena minimnya inovasi yang dilakukan Asara Honda Motor selaku ATPM Honda di Indonesia.

Image yang dibangun karena exlusivitas

Umumnya dilakukan oleh produsen motor Eropa dan Amerika. Mereka menjual produk mereka dengan embel-embel karya seni. Sehingga umumnya produk mereka memiliki harga yang mahal. Hal ini semata mata agar pihak produsen mendapat untung besar tanpa harus menjual produk mereka secara masal, yang secara langsung berimbas pada ekslusivitas produk mereka. Umumnya Brand yang menjual produknya dengan dasar exlusivitas memiliki konsumen tersendiri. Umumnya konsumen mereka tidak mempedulikan value for money tetapi hanya karena kecintaan mereka terhadap Brand produk tersebut. Contohnya adalah Buell, Ducati, Mv Agusta, Triumph dan Harley Davidson.

Bagai mana dengan Kawasaki dan Bajaj ?

Pendatang baru di industri otomotif roda dua tanah air, Kawasaki (1996) dan Bajaj (2006) mendapat tantangan berat. Karena meski mereka memiliki segudang teknologi dan inovasi, sayangnya mereka sendiri belum memiliki image yang kuat di tanah air. Meski Kawasaki dengan Ninjanya sudah menjadi ikon tersendiri tetapi regulasi yang merugikan motor dua tak harus segera mereka antisipasi.  Sedangkan Bajaj, mereka datang dari negara dunia ke tiga, dan Bajaj masih terlalu identik dengan Bajay (kendaraan berwarna merah beroda tiga), bagaikan mendaki gunung Himalaya, PT Bajaj Motor Indonesia selaku ATPM Bajaj harus melakukan sesuatu untuk membangun image mereka terutama di mata konsumen awam. Jika tidak segala macam keunggulan teknologi dan kecanggihan yang di miliki Bajaj dapat terbuang sia sia … 

07
Jun

Siapakah Juara dunia 2007 ? Stoner,Rossi atau Sylvain Guintoly?

 

Casey Stoner juara dunia? Masih jauh!!!

Tak ada yang menyangsikan kedigdayaan Stoner dalam mengendalikan keganasan Desmosedici,pembalap yang meniti karir di awal peluncuran Ducati di kancah MotoGP,Loris Capirossi saja kesulitan. Terlebih podium tertinggi diraih dengan mudah oleh Stoner.Semula orang menduga ini dikarenakan trek lurus yang memang mengakomodir mesin Ducati.Tapi bocah ajaib kelahiran Kuri Kuri ini membalikan opini tersebut,setidaknya mampu berada di barisan depan.

Tapi balapan 03 Juni 2007 silam membuktikan Rossi belum habis,begitu pula karet bundar Michelin. Ini dibuktikan Daniel Pedrosa di podium kedua. Begitu pula,pembalap gaek yang memang terbukti tua-tua keladi,makin tua makin menjadi. Berada di tim satelit yang jauh dari kompetitif. Ini ditunjukan Ducati satelit sejak dibentuk tahun 2004,prestasinya jauh dari tim induknya. Namun kali ini berbeda. Pembalap asal Brazil kelahiran tahun 1970 ini membakukan waktu tercepat. Dan yang terpenting adalah podium ketiga dan yang agak krusial menyalip tim pabrikan Ducati yang digadang juara dunia,Casey Stoner. Tidak ada ekspresi berlebihan pada Barros. Berbeda dengan rekan setimnya,Alex Hofmann yang begitu bangga finish di depan Rossi seri lalu yang lebih terkendala pada masalah ban Michelin yang memble di negerinya sendiri.Podium disapu bersih oleh Bridgestone.Barros tetaplah pembalap low profile.Tahun 2002,Barros memiliki adaptasi yang luar biasa dengan motor prototype 4 tak.Podium langsung disikatnya di kali pertama menunggangi RC211V. Meski berstatus tim yang juga satelit,West Honda Pons namun tak membuatnya sungkan finish di depan pembalap tim pabrikan.Namun,entah disadari atau tidak. Barros tersingkir dari Honda dan membela Gauloises Yamaha di musim depannya. Capirex,rekan setimnya kala itu,kesal mendapatkan perlakukan berbeda maka lamaran Ducatipun diterimanya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Ducati akan memberlakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Honda pada pembalap yang identik dengan angka 4 ini? Kita lihat saja seri depan.

Rossi dan Fiat membuktikan masih bertaji di negeri sendiri,Italia. Begitu pula Ducati tim satelit. Dengan selisih poin yang makin dekat,Rossi bertambah 25,sedangkan Stoner hanya mengemas 13 poin.Daniel Pedrosapun tak bisa diremehkan. Partner juara dunia musim lalu ini tetap bergaya kalem dalam membesut RC212V maupun dalam keseharian.

Terlalu dini bila menasbehkan Stoner menyandang gelar juara dunia. Tak sedikit factor yang menghadangnya. Begitu banyak kejutan di musim ini,siapa sangka tim Suzuki berkilat prestasinya setelah diawaki duet muda? Hopkins yang bersemangat dan Vermeulen yang pakar hujan.Chris menolak anggapan tersebut,tapi memang kenyataan mengungkap demikian.Malah pembalap yang senior seakan tak berdaya menghadapi young blood. Carlos Checa,Kenny Roberts Jr,meski mendapat mesin Honda tak bisa berbuat banyak. Sylvain Guintoli,memang agak berbau keberuntungan meraih poin. Namun,konsistensi lebih penting bagi rookie satu-satunya tahun ini. Terlebih mesin yang pas-pasan yang hanya dibalut karet bundar Dunlop.Ini balapan bro..tak memandang senior,paling berpengalaman (expert),mesin mumpuni, yang terpenting adalah berusaha untuk selalu di depan.

artikel ditulis oleh < Girifumi >

06
Jun

Kurangnya Pemahaman Konsumen Terhadap Produk

new-tiger.jpg 

Akankah Tiggy baru akan seperti ini ? Kok mirip Yamaha R6 …

Satu minggu terakhir ini saya sering membaca thread pada posting yang mengkritik tentang kinerja Astra Honda Motor. Baik yang di posting di Indo-Bikers maupun yang di posting di Kafemotor nya bro Ilham. Beberapa thread yang bikin saya cekikikan sendiri, seperti yang di tulis oleh bro Gembel Kaya yang di posting di Kafemotor. Bunyinya kurang lebih begini : “HONDA= Hanya Orang Ndeso Dikibulin Astra”. 

Sebenarnya bagi orang yang setidaknya cukup paham dengan perkembangan teknologi roda dua apalagi yang berasal dari Jepang, umumnya mereka paham betul apa yang terjadi saat ini. Karena produk yang dijual di tanah air setidaknya sampai dengan awan tahun 2000an sangat tertinggal dengan negri tetangga, entah Malaysia apalagi Thailand. Sebagai contoh, Penggemar motor bernuansa sport seperti Kawasaki Ninja baru dapat merasakan motor Ninja yang telah menggunakan velg palang (CW) dan rem cakram belakang, pada tahun 2002 akhir. Padahal Kawasaki Ninja sudah masuk ke Indonesia pada kuartal ke tiga tahun1996. Kontras sekali dengan Thailand, mereka sudah merasakan kedahsyatan KRR sejak tahun 1996. Produsen lainya pun serupa. Seperti Suzuki yang hanya menghadirkan RGR sejak tahun 1991, padahal jika dibandingkan dengan RGV 125 memiliki spesifikasi yang amat jauh berbeda. Yamaha pun hampir sama. Mereka hanya menghadirkan varian RZR 135 bukan varian dari keluarga TZ ? Untuk Honda lebih parah lagi. AHM hanya mengeluarkan NSR 150 R, produk keluaran Astra Honda ini jika dibandingkan dengan saudaranya dari negri Siam dan seperti NSR 150 RR dan NSR 150 SP sangat jauh berbeda. Sebagai catatan, Indonesia baru mengenal Skutik pada tahun 1997, bertepatan dengan Seagames Jakarta. Tapi untungnya kondisi mulai berubah. Beberapa ATPM menyadari akan pentingnya fitur pada produk mereka. Sejak tahun 1997an mulai hadir produk yang mengarah kepada teknologi hi-end. Meski hanya merupakan produk pengenalan Yamaha berani mengeluarkan F1ZRh dengan kopling2an, atau Suzuki dengan Satria 120 nya. Hingga pada pertengahan tahun 2000, bertepatan dengan Jakarta Motor Show, mulailah bermunculan produk ATPM lokal yang memiliki standar sama dengan produk ATPM negara tetangga. Mulai dari Suzuki FXR, Yamaha Tiara, Jupiter Hingga Kawasaki Ninja R dan RR.  

Sayangnya penerapan teknologi tersebut tidak dilakukan oleh produsen terbesar speda motor di Indonesia saat itu. Astra Honda Motor tetap berpangku tangan. Mereka tidak tertarik untung mengembangkan produk berteknologi maju. Walaupun di saat yang sama telah hadir Kawasaki Ninja RR ataupun Suzuki FXR, mereka malah menghentikan produksi NSR 150. Memang saat itu keputusan mereka bisa dibilang tepat jika dilihat dari sisi dagang. Disaat yang sama AHM harus menangkal serbuan motor Cina yang hadir dengan harga super murah. Yang dilakukan AHM pada saat itu pun tidak terlalu rumit. Pertama mereka menggunakan artis pemeran ”Si Doel Anak Sekolahan”  sebagai bintang iklan. Kedua melalui iklan, mereka membangun image bahwa produk Honda lebih awet dan berkualitas meski harganya sedikit lebih mahal. Hasilnya pun sukses, dan kembali lagi membuktikan Honda lebih unggul, produk seperti Jialing, Jincheng, Qingqi dan Beijing pun akhirnya mati dengan sendirinya.

Kini jurus seperti itu mulai tidak mempan dalam usaha AHM menjaring konsumen. Karena lawan yang dihadapi Honda pun bukan sembarangan. Melainkan raksaksa sesama Jepang. Oke jika kita kesampingkan merk Kawasaki dan Bajaj, karena kita anggap ATPM mereka di Indonesia masih seumur jagung. Namun bagai mana dengan Yamaha dan Suzuki? Dipasar Bebek hyper Honda sudah jauh jauh hari mengibarkan bendera putih. Nova Sonic di hentikan. Disektor motor touring, AHM hanya mengganti baju motor Tiger menjadi Tiger Revo dan menganti velg Megapro menjadi CW. Terbukti kurang sukses, meski gagal dengan Thunder 250 namun Suzuki sukses dengan Thunder 125. Belum lagi serbuan V-Ixion yang hadir dengan inovasi besar. Uniknya meski memiliki penjualan cukup luas ditangan importir umum, AHM mengabaikan kehadiran Honda CBR 150 … 

Sekarang benteng terakhir AHM adalah di sektor bebek Standar. Sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia, penjualan Honda di sektor ini belum pernah tergoyahkan. Tetapi kini bukan jamanya dinasti Astrea lagi. Kini dinasti Supra harus berhadapan dengan pasukan Suzuki Shogun dan Yamaha Jupiter serta Vega. Belum lagi serbuan skutik Mio dan Nuovo, kalau saja bukan karena nama besar Honda dijamin Honda Vario akan mengalami kesulitan besar.  

Untuk yang akan dantang, kalaupun AHM berencana melahirkan lagi Nova Sonik 125 pada akhir 2007, tampaknya hal ini akan sia sia belaka apa bila harga Nova Sonic 125 memiliki harga yang sama dengan Suzuki Satria 150 FU. Lha wong cc nya aja udah kalah jauh koktrus harganya mau sama gitu? dijamin tidak ada yang beli, kecuali dia Honda minded. 

Sekarang bagai mana kita sebagai konsumen berpikir rasional dan lebih cerdas. Sudah terbukti, dengan tingkat pengetahuan akan teknologi roda dua, dan kritisnya konsumen terhadap produk yang ditawarkan membuat ATPM berpikir ulang untuk menawarkan produk dengan teknologi lawas kepada konsumennya. Kini ATPM justru berlomba lomba memamerkan fitur dan teknologi terbaru pada jajaran produk mereka. Buktinya meski tidak signifikan namun ATPM yang tidak peduli pada konsumen, atau menganggap mereka masih  mampu membodohi konsumen mulai ditinggalkan konsumenya sendiri. Mudah mudahan dengan menurunya omset penjualan ATPM tersebut dapat menyadarkan mereka, agar meningkatkan mutu dan teknologi pada produk mereka. Semoga …

Terkait : http://ducatimonster.wordpress.com/2007/05/30/honda-terlalu-konservatif/

 

 

04
Jun

GALERI MOTOR : SATRIA 150 FU & HONDA CBR 125 FIRE BLADE

Link : http://indobikers.wordpress.com/ - Untuk Gambar dengan Resolusi tinggi ,

03
Jun

Bebek Impian : Canggih Plus Murah ? … Bisa !!!

blue_max.jpg

Bebek Canggih tapi Mahal, Bebek murah tapi tanpa Fitur dan Performa 

Kalau bagi sebagian orang, Suzuki Satria 150 FU adalah bebek yang nyaris sempurna. Tapi kenapa FU bukan menjadi market leader di kalangan bebek? sebenarnya cuma satu jawabanya : bagi sebagian orang masih dianggap kemahalan … Nah !!! Hal ini disebabkan karena harga FU yang 17 juta an sudah mendekati harga motor laki laki. Jadi buat sebagian orang menganggap FU dengan harga yang segitu masih aja statusnya bebek, jadi kenapa gak sekalian aja beli Pulsar 180 DTSi atau Thunder 125 yang harganya sama tapi sudah motor tourer sejati !

Lain halnya dengan motor bebek sejati yang memiliki kisaran harga 10 sampai 13 jutaan. Memang tidak ada fitur spesial bagi produk tersebut. Satu satunya keunggulan mereka adalah mesin yang sederhana, simpel dan sangat cocok untuk dipakai harian. Bagi para Bikers bebek yang seperti ini jarang dilirik karena ya itu tadi : Penampilan yang terlalu sederhana maupun performa yang biasa saja . Tetapi harus diakui, 70 persen konsumen motor adalah pengguna motor yang hanya menggunakan motor sebagai alat transportasi harian, Titik ! Jadi jangan heran kalau produk motor yang tampil sebagai market leader adalah produk yang sperti ini, standar total.

Mungkinkah kita sebagai konsumen dan bikers bisa mendapatkan produk dengan kisaran harga mendekati bebek standar namun memiliki performa mendekati bebek hyper? Terus terang saya yakin bisa! Oke sekarang kita ambil contoh dari produk yang sudah ada di pasaran. Produk pertama adalah bebek Hyper, berhubung cuma ada satu ya kita ambil Suzuki Satria 150 FU. Yang kedua adalah bebek standar kita ambil dari produk Astra Honda Motor yang terkenal dengan produknya yang lahir tanpa fitur dan teknologi yang memadai. Dalam hal ini yang kita pilih adalah Honda Supra Fit 100 dengan harga 11 juta  . Kedua produk memang sangat bertolak belakang. ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menggabungkan kedua motor tersebut.

Pertama : Mesin 150cc FU di kecilkan menjadi 120cc sehingga konsumsi bahan bakar menjadi lebih hemat dan bobot motor sedikit berkurang. Disamping itu dengan kapasitan 120cc motor masih memiliki keunggulan tenaga dibanding motor bebek lainya, yang umumnya berkapasitas 110cc.

Kedua : Girbox FU di jadikan 5 percepatan, karena disamping bobot motor yang berkurang, biaya pembuatan girbox pun ikut menyusut. Tapi dengan 5 percepatan masih lebih unggul dibanding bebek yang umumnya hanya memiliki 4 percepatan. Kopling di tiadakan, kalaupun ada dijadikan opsi tambahan atau kopling bohongan seperti pada F1Z RH 1997.

Ketiga : Meski tetap mengunakan velg palang (CW) tetapi rem belakang cukup tromol, tidak perlu menggunakan rem cakram, terus terang dengan tiadanya rem cakram belakang minimal ongkos produksi bisa dikurangi sekitar 750 ribuan. I

Terakhir : Desain sasis harus mampu membantu penampilan, sehingga panel - panel pada motor tidak perlu terlalu banyak, sehingga ikut menekan ongkos produksi motor. Alangkah baiknya jika komponen motor tersebut merupakan komponen komposit, sehingga dapat menggunakan produk dari jenis speda motor lainya sehingga membuat biaya perawatan menjadi lebih mudah dan murah.

Kesimpulanya, Ternyata Bisa … Yes !!

Dengan motor yang seperti ini, saya yakin biaya produksi bisa ditekan serendah rendahnya namun konsumen masih mendapatkan motor berkualitas dan memiliki performa yang cukup baik. Harapan saya bebek plus ini memiliki kisaran harga antara 12 sampai maksimal 13 juta, tidak lebih. Oh ya, tentang DOHC dan Injeksi sepertinya nggak perlu deh, karena penggunaan teknologi seperti ini disamping makan biaya juga kurang begitu bermanfaat, karena pada motor seperti ini memiliki tujuan harga dan penampilan, sedangkan performa asal cukup diatas bebek standar. Bagaimana Setuju ? 

 

01
Jun

Trend Bebek Underbone 2008

bebeko.jpg

Pilih Mana ? Lampu Setang Apa Lampu Body ? 

Beberapa waktu lalu,di Thailand resmi diluncurkan Yamaha X1R.Meski menyandang nama X1 tapi mesin bukanlah X1 diimbuhi item baru (Spark 110,di Indonesia lebih dikenal dengan Jupiter Z) Nyata-nyata memakai mesin canggih milik Yamaha Spark,disini Jupiter MX. Hanya saja rem belakang sudah cakram.Yang berbeda lainnya adalah panel instrumen berikut setang. Setang telanjang model jepit didaulat sebagai pengendali laju.Lampupun tersingkir dari setang,sebagai gantinya terpasang di sayap layaknya Yamaha X1 atau Nouvo. Sensasi mengendara moge begitu terasa.Tapi bila kita ingin menarik ke belakang ada beberapa motor yang telah menerapkan hal serupa di Asia Tenggara. 

x1.jpg

Untuk underbone dengan lampu di depan setidaknya ada tiga merek Jepang yang bermain. Persamaannya adalah mempergunakan lampu versi moge. 

1.        Yamaha X1Yamaha Jupiter Z yang makeover begitulah kira-kira. Tinggal mempermainkan bodi agar tampak lebih ramHanya saja konsep saya melenceng,terlalu tinggi bagi Suzuki. Konsep saya adalah menciptakan replika moge dalam arti ping dan dengan lampu ganda terpisah membuat pengendara seakan menaiki motor besar dari depan.Model ini nyata-nyata ditiru importir motor China,Happy. Sedikit mirip kasusnya dengan CBR Vortex. Mereka cukup peka dengan konsumen yang menginginkan tampilan berbeda pada umumnya namun dengan harga yang murah. Beberapa modifikator mengaku menghabiskan kurang lebih sejuta untuk menebus sederet kelengkapan X1.X1 memakai moge Yamaha R1.  

2.  Kawasaki ZX130Inilah motor paling revolusioner di antara lain,paling bontot segalanya dibandingkan saudara sesama Jepang memaksa pabrikan yang dikenal dengan warna hijau ini berinovasi. Selain kapasitas yang tidak semestinya yaitu 130 cc. Juga menawarkan konsep baru berkendara,tangki di depan terletak persis di antara lampu utama dan batok setang. Kemudian posisi tangki pada umumnya menjadi bagasi ekstra lapang!! Bagasi ini mampu menampung dua helm half face,jadi cocok bagi yang kuatir akan kehilangan helmnya. Rupanya mesin 130 cc 4 langkah ini memang dirancang untuk tetap bertenaga dengan sederet hal yang aneh di tubuhnya. Bila kita perhatikan lengan ayun belakang terutama pegangan sokbreker belakang terdapat perbedaan yang nyata. Cacat pabrik? Bukan. Sama sekali bukan.Terdapat perhitungan  untuk membuat motor tetap seimbang di kala melaju yang menuntut center of gravity yang baik, membuat tercetus desain yang nyleneh itu. Panel indikator yang mengadopsi dari motor sport Ninja ini terdapat tachometer untuk menghitung putaran mesin. Sesuatu yang unik untuk motor jenis underbone. Motor berjenis underbone yang pernah menyandangnya adalah berkarakter sport,sebut saja dua Satria,Satria 120R generasi terakhir dan Suzuki F150. Lainnya,Yamaha 125Z. Pemasangan panel indikator tersebut sebatas kamuflase sempurna untuk bodi yang melebar.Memang posisi badan yang merunduk mengesankan motor ini layak menyandang Baby Ninja,namun tanpa adanya kopling manual? rasanya ada yang kurang. Oh,ya.Lampu mirip dengan Z series moge Kawasaki. 

3.        Suzuki Katana di Indonesia berganti nama dengan Suzuki Arashi. Akal-akalan Yamaha untuk merefresh motor yang ada ditiru Suzuki. Disini yang berbeda kapasitasnya dari Yamaha. Yamaha bermain di kelas 110 cc sedangkan Suzuki 125 cc. Bila pesaingnya     menerapkan lampu ganda    horizontal  ,   Suzuki melakukan   pembedaan,   Yaitu   menerapkan   lampu   ganda vertikal, yaitu lampu replika moge GSX. Sebelumnya saya memiliki konsep serupa jauh sebelum Katana dilaunching tepatnya pasca kelahiran F150. Motor supersport,full fairing tiruan yang layak adalah underbone. Alasannya? Underbone memiliki panel bodi yang lebar dan tak sesederhana hyper underbone yang menerapkan lampu depan dan kaki semata. sebenarnya. Bila Suzuki Hayabusa berkapasitas 1300 cc,moge yang masih menyandang moge terkencang ini, maka replikanya adalah 130 cc. Kapasitas ini dianut oleh ZX130. Bagian haluan,okelah.Hanya saat itu aku menginginkan suspensi depan seperti yang diaplikasi oleh Satria 120R tegak lurus. Panel setang konsepku adalah setang jepit dengan speedometer digital. Persis yang dianut Yamaha X1R saat ini.Haluannya? kaki dari motor bebek Suzuki monoshock dipakai.Kemudian velg berikut peranti cakramnya milik dari Satria 4 tak (sayangnya,Shogun 125SP yang dipilih menyandangnya di awal tahun 2005)Oh,ya. Salah satu konsepku yang tercapai adalah pemasangan huruf kanji di bodi motor layaknya Hayabusa.    

Bagaimana prospek motor dengan lampu di sayap di tanah air? Yamaha Indonesia memutuskan untuk tidak memproduksinya di tanah air,meski merupakan hal yang mudah tinggal memasang panel bodi saja. Karena berdasarkan riset, model ini tidak disukai oleh konsumen Indonesia.Ini sudah terbukti pada Yamaha Nouvo atau Nouvo Z,Mio terbukti lebih laris manis,disamping harga yang murah yang diutamakan adalah lampu depan (ini menurut risetku pribadi dari beberapa responden). Masih ingat bukan kasus Kymco Free seri awal?Maksud hati-hati ingin mematahkan dominasi Yamaha Mio dengan mempertahankan ciri khas skuter matik yakni lampu di sayap kemudian inovasi lain rear seat yang bisa berfungsi sebagai sandaran. Ternyata lampu yang terletak di sayap membuat kesulitan pengendaranya membuat Kymco melakukan revisi di seri berikutnya. Hanya saja,uniknya, Honda menelan bulat-bulat konsep dari negeri Siam ini ke Indonesia. Tentunya tidak hadir dalam konsep bebek,namun skuter Vario.Nama besar Honda yang terkenal dengan jaringan yang luas,body futuristis mampu menghapuskan kegalauan masyarakat Indonesia tentang polemik ini.Lalu,Suzuki? Suzuki Arashi angka penjualannya masih jauh di bawah saudara kembarnya,Shogun 125R atau Shogun 125SP.  Inilah hebatnya Honda. Apapun yang menjadi jualannya laris manis. Mungkin saja  maaf,kalau kotoran dijual Hondapun laku. Tapi berapa lama? Realita di lapangan berkata beda. Pasar semakin kritis. Ini dibahas dalam salah satu artikel di website ini… 

Artikel ini ditulis oleh Brothers <Girifumi>




Jarak Tempuh

  • 1,643,429 Km

INDOBIKERS, Indonesian Bikers Community