Arsip untuk Juni, 2007

30
Jun

Fenomena Skutik … New Mio ???

350px-next_mio.jpg

Jika dulu PT Federal Motor membuat terobosan dengan mengeluarkan motor jenis moped (baca : bebek) kini giliran Yamaha Motor Kencana Indonesia membuat terobosan dengan merilis produk bernama Yamaha Mio. Dahulu kita hanya mengenal skuter melalui produk Piaggio Vespa ataupun melalui tayangan balap di televisi dimana para pembalap kesana kemari mengitari paddock menggunakan skuter mini dengan bentuk yang futuristis. Sejak tahun 1997 pasar Indonesia kedatangan produk baru bernama Kymco Jetmatic. Untuk pertama kalinya secara resmi skuter otomatik di jual di tanah air. Produk Taiwan ini tidak butuh waktu lama untuk dikenal masyarakat, karena salah satunya adalah Kymco Jetmatic digunakan sebagai kendaraan resmi bagi para ofisial Sea Games Jakarta 1997. Namun kepopuleran skutik pertama di Indonesia ini tidak berlangsung lama karena terpaan krisis moneter plus kurang kuatnya image Kymco di mata masyarakat. Ditambah beredarnya isu bahwa skutik sulit diperbaiki dan mudah rusak semakin merugikan penjualan kymco di pasaran.  

Ini Yamaha bung, bukan Kymco

Kurang suksesnya Jetmatic di pasaran tidak serta merta membuat Yamaha mengurungkan niatnya memasarkan skuter buatanya. YMKI resmi merilis Nuovo sebagai skutik pertama buatan Jepang yang dijual resmi di Indonesia. Tetapi ternyat penjualannya tidak sesukses yang diharapkan. Karena saat itu pasar yang di targetkan sebagai konsumen Nuovo adalah pria berusia 20-30 tahun namun ternyata kebanyakan konsumen yang ditargetkan malah memilih motor jenis bebek dibanding skutik. Ukuran Nuovo yang 10 persen lebih besar dibanding motor bebek juga menjadi ganjalan bagi kaum hawa untuk menggunakan Yamaha Nuovo. Tidak menyerah begitu saja, Yamaha membuat terobosan baru dengan membuat Yamaha Mio, skutik mini nan ringan ini dirancang khusus karena memang ditujukan untuk digunakan kaum wanita. Sekali lagi prediksi YMKI kembali meleset, namun melesetnya prediksi Yamaha kali ini justru membawa berkah bagi mereka. Karena yang tertarik menggunakan Mio bukan saja kaum hawa tetapi kaum adam justru tertarik menggunakan Mio. Pada awalnya rata rata kaum adam pengguna Mio masih berdalih bahwa mereka membeli skutik ini untuk keperluan istrinya, adik perempuan ataupun ibunya. Tetapi seiring dengan waktu kini mereka tidak malu malu untuk menggunakan Mio sebagai kendaraan oprasional harian.

Bukan Performa tapi Ergonomis

Jangan bicara performa,  tetapi faktor ergonomis Yamaha Mio tidak tertandingi bahkan bila dibandingkan motor bebek sekelas Supra Fit sekalipun. Keandalan faktor ergonomis Mio terbukti terutama buat penggunaan jarak menengah (10-20km) perhari dan penggunaan di kota besar yang selalu menghadapi kemacetan tanpa henti. Bobot yang hanya 87kg ditambah transmisi otomatik membuat pengendara tidak cepat lelah terutama dibanding motor yang menggunakan kopling ataupun motor yang bergaya lebih sporty. Bahkan banyak bikers penggemar motor sports yang menyimpan motor kesayangan mereka di garasi pada hari kerja dan  justru menggunakan Mio sebagai kendaraan oprasional. Buat pengendara wanita  dan bagi mereka yang baru bisa mengendarai motor tenaga Mio yang kecil dan tersalur halus keroda belakan membuat motor ini mudah untuk dikendarai.

Honda Vario Vs Yamaha Mio

Seperti biasa Honda tidak akan mau mengalah dengan Yamaha, meskipun sedikit terlalu terlambat dalam memasuki pasar skutik Astra Honda Motor akhirnya mengeluarkan varian Honda Vario. Berukuran lebih besar dan memiliki penampilan lebih futuristis dibanding Mio, dengan harga yang lebih mahal tentunya AHM berharap dapat merebut pasar skutik di tanah air dari tangan Yamaha.  Sulit mengkomparasi keduanya, karena sungguh tidak relevan buat menentukan keunggulan melalui performa, namun ukuran dan penampilan Vario lebih unggul dibanding Mio. Tetapi dari faktor value for money Mio jelas jelas lebih unggul, apalagi mengingat motor jenis skutik umumnya lebih difungsikan menjadi kendaraan oprasional daripada kendaraan yang dipakai untuk mejeng dan adu kecepatan.

  • Yamaha Mio Sporty

Mesin :113 cc SOHC, Air cooled dengan tenaga sebesar 8.9 PS pada 8000 rpm. Harga Mio : Rp. 11.58 juta

  • Honda Vario CW

Mesin : 108cc SOHC. Water cooled dengan tenaga sebesar 8.9PS pada 8000 rpm.  Harga Vario : Rp. 14.15 juta

 

Facelift Mio …

Hampir berusia 4 tahun nampaknya sudah saatnya Yamaha melakukan facelift bagi Mio. Tidak terlalu radikal memang namun tujuan facelift tersebut memang sudah jelas yaitu untuk meningkatkan penampilan Mio dalam menghadapi kompetitornya yaitu Honda Vario dan Suzuki Spin.

28
Jun

OZ! OZ! Huh…OZ Lagi! Hueek!

beattie2.jpg

Freak OZ merajalela 

Kalo di Jakarta mungkin gaungnya nggak seberapa, tapi kalo di Australia ini bener bener memuakan! Bayangin tiap ngomongin tentang balap motor orang orang di sini sibuk ngomonging Stoner, Vermeulen dan sekarang ditambah Anthony West pula! Pusing ngedengerin manusia manusia “Freak Oz” (bangga gak karuan sama Australia) nyetel TV stasius TEN buat nonton balap Moto GP, komentator sekaligus hostnya adalah Darryl Beattie,masih ingat? Itu tuh orang Oz botak yang naik Suzuki RGV 500 nomor 2 saingan Mick Doohan yang sialnya juga masih OZ juga! Dulu dia terpaksa pensiun karena kecelakaan kedua setelah di sirkuit Syah Alam Malaysia lalu di Paul Richard di nyuksruk lagi sampe gegar otak. Sayangnya setelah dioprasi penyakit Freak OZ nya muncul trus tambah parah!

Komentar TV yang gak nyambung!

Di tv lagi di sorot Alex Baros lagi uber uberan dengan Loris Capirossi tapi komentatornya sibuk nyeritain pertarungan Cris Vermeullen lawan Valentino Rossi lha kok gak nyambung sih? Ini bukan kesalahan teknis tapi karena kometatornya memang Freak Oz! Jadi insyaalah yang lagi di sirkuit itu Thierry Henry naik kuda lumping  ngelawan  Michael Jordan naik Supra Fit tapi yang dibicarain tetep aja Mark Webber dengan kehebatan dan kemampuan saktinya dalam menghancurkan Redbul F1 tunggangannya. Jangan pula jadi heran kalo baca koran tentang liputan moto Gp, satu kolom sepuluh baris nyeritain 16 pembalap gabungan Rossi, Hayden, Pedrosa dan kawan kawan, tetapi sisa 9 kolom lainya nyeritain tentang Stoner, Vermeulen plus Anthony West! Yuhuu ternyata jurnalis Australia memang sama gilanya dengan Darryl Beatie. 

Makin hari makin banyak …

Dulu penyakit edan ini sempat pudar dari moto Gp setelah era Mick Doohan. Sekarang penyakit ini timbul lagi setelah si OZ Stoner jadi jagoan di moto Gp! Lalu Vermuelen memperparah situasi dengan menjadi juara seri untuk pertama kalinya. Belum cukup juga, kenapa pula Olivier Jaques pake acara nyuksruk sampe cedera parah! Tuh kan nambah lagi deh si Antony West makin parah deh penyakit freak Oz di dunia moto Gp! Udah ah mau belajar dulu udah akhir smester nih biar bisa buru buru mudik dan sejenak melepaskan pusing dari penyakit yang bikin eneg,…hueeeeek Frek OZ go to hell! 

28
Jun

Edisi Nostalgia …

krr-ssr-g.jpg

Tak terasa kita sudah menginjak pertengahan tahun 2007…Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak Tadayuki Okada menjuarai Gp 500 di Sentul … Tak terasa sudah 11 tahun sejak pertama kali indonesia menjadi penyelenggara kejuaraan dunia balap motor … Tak terasa pula sejak pertama kali riuh riang penonton menyambut kemenangan Masaki Tokudome atas Haruchika Aoki … Tak menyangka sudah satu dekade berlalu kita tidak menjadi penyelenggara balap grandprix …

Kembali ke Lap…top!  Masih ingat tahun 1996 dan 1997? Bagai mana wajah kendaraan roda dua di indonesia saat itu? Marilah kita sejenak melupakan V-ixion, Pulsar, Fu atau Desmosedici kita kembali ke masa sepuluh tahun silam …

Awal kebangkitan motor bebek …

Sebelum tahun 1995 bergulir, umumnya motor bebek masih didominasi oleh produk Astra Honda Motor. Varian yang beredar pun belum begitu banyak dan modelnya pun begitu monoton dan didominasi warna hitam dengan velg SW. Bahkan penggunaan rem cakram depan hanya terbatas pada motor kelas sport atau berkapasitas diatas 135cc. Namun sejak diluncurkanya Yamaha F1Z dan Suzuki Tornado GS pada pertengahan 94 dan 95 konsumen mulai mengenal motor bebek berwarana cerah (karena biasanya berwarna hitam dengan striping hijau atau merah) dan memiliki performa yang lumayan. Meski penerapan suspensi monoshock masih merupakan impian, konsumen sudah bisa memiliki motor bebek yang menggunakan rem cakram depan. Pencerahan ditandai dengan penyelenggaraan Gp sentul tahun 1997, seakan berlomba lomba pabrikan berusaha melakukan peningkatan mutu motor bebeknya. Mulai dari diperkenalkanya bebek dengan “kopling2an” Yamaha F1ZRH hingga lahirnya Suzuki Satria 125 dengan rangka deltabox dan supensi monoshock. Belum lagi bangkitnya Kawasaki di Indonesia dengan ditandai peluncuran motor bebek Kawasaki Kaze 110cc.  

nsr150sp.jpg

Masih dikuasai motor sport 2 tak kelas dua …

Hanya ada empat varian motor sport yang beredar pada tahun 96 dan 97. Suzuki RGR 150 yang sudah berumur 6 tahun sejak diluncurkan pertama kali tahun 1991,Yamaha RZR berkapasitas 135cc, Honda NSR 150 dan yang terakhir adalah Kawasaki Ninja 150. Keempat motor tersebut memiliki persamaan yang menyedihkan pada zamanya.  Keempat varian tersebut merupakan varian kelas dua dalam keluarganya. Jika Honda NSR merupakan versi down grade dari NSR 150 RR, RGR merupakan spekdown dari RGV maka Ninja 150 merupakan varian termurah dari keluarga Ninja 150. Untuk RZR sendiri merupakan RXZ 135 yang dipasangi fairing dan suspensi gas cushion. Persamaan yang kedua adalah semua motor tersebut belum dilengkapi velg CW sehingga penampilannya terlihat agak ganjil. Untuk urusan teknologi mesin hanya Ninja 150 dan NSR 150 yang dilengkapi radiator. Yang paling unik, apalagi bila dibandingkan kondisi saat ini Hanya NSR 150 keluaran AHM lah yang paling mendekati spesifikasi standar motor sport kelas satu pada waktu itu, karena nilai minus NSR 150 hanyalah tidak digunakanya velg CW sebagai velg standar. Coba bila dibandingkan dengan motor sport yang beredar di negeri gajah putih atau negeri jiran saat itu. Mereka sudah diperkuat dengan Kawasaki KRR, Serpico kemudian Honda NSR 150 RR/SP atau malah Yamaha TZM 150. Harapan sempat terwujud dengan di rilisnya TZM 150 pada kuartal ke tiga tahun 98 namun harapan itu kembali hilang saat mendengar kabar nasib TZM yang semakin tidak jelas. Kehausan konsumen akan motor sports kelas satu pun baru terwujud di awal milenium ke tiga, sejak kehadiran Suzuki FXR dan Kawasaki Ninja 150 RR di pasar tanah air.  

Kondisi motor cruiser tidak jauh beda dengan sekarang … 

Bila peningkatan drastis terjadi pada varian motor bebek dan motor sports hal sebaliknya malah terjadi pada motor jenis cruiser. Jika dahulu ada varian bernama Honda GL Max dan GL Pro, kini masih ada kok motor serupa dengan nama Mega Pro. Jika dahulu ada motor kencang dengan nama Rx King, kini nama yang serupa pun masih banyak dijual di showroom Yamaha di Indonesia. Bahkan cruiser paling megah saat itu Honda Tiger 2000 yang dirilis pada tahun 1994 masih dijual di showroom AHM hingga saat ini, namun dengan baju baru tentunya.

Kini lebih baik dan lebih banyak pilihan … setuju ?

Sekarang motor bebek di indonesia sudah memiliki standar teknologi yang jauh lebih baik bahkan bila dibandingkan dengan motor yang beredar di negara tetangga sekalipun. Siapa sih yang tidak gentar mendengar nama Satria 150 FU? Bebek paling kencang sejagat raya buatan Suzuki ini merupakan motor paling baik dikelasnya saat ini. Yamaha Jupiter MX 135 pun tidak perlu minder bila disandingkan dengan Honda Nova Sonik 125 buatan negri jiran. Suzuki FXR, Kawasaki Ninja 150 RR dan Honda CBR pun merupakan motor sport 150cc kelas satu di dalam keluarganya. Namun ironisnya, motor jenis cruiser yang beredar saat ini masih merupakan varian kelas dua didalam keluarganya. Seperti V-ixion meski di sebut sebut canggih namun kualitasnya masih dipertanyakan oleh sebagian pengamat kendaraan roda dua. Bajaj pulsar pun hanya varian 180 DTSi yang di masukan, varian 220 DTSi yang sudah jelas memiliki performa luar biasa justru malah dilupakan oleh ATPM Bajaj di Indonesia. Sekarang terserah konsumen, mau pilih jenis motor yang mana? Yang pasti kini kualitas motor rakitan lokal yang beredar di pasaran sudah sama dengan rakitan negri Jiran ataupun rakitan Thailand. Jangan lupa varian skutik pun sudah banyak pilihanya …bingung?

 

 

26
Jun

INDOBIKERS HADIR DI YOUTUBE !!!

25
Jun

Moto GP - Apa Penyabab Dominasi Ducati terhadap Kwartet Jepang ?

mena.jpg

Dalam musim balapan tahun 2007 ini Ducati dengan pembalapnya Casey Stoner telah memenangkan 5 dari 8 balapan yang telah digelar. Terutama di Indonesia kebanyakan penggemar Moto Gp lebih banyak menjagokan pembalap yang menggunakan motor buatan Jepang ketimbang pembalap yang menggunakan motor buatan Itali,  seperti Valentino Rossi dengan Yamaha YZR M1, Pedrosa dengan Honda RC212 ataupun Criss Vermeulen diatas Suzuki GSVR800 tentu jauh lebih populer dibanding Stoner dan Capirossi yang menggunakan Ducati . Hal juga ini disebabkan karena kecilnya populasi motor buatan Ducati di Indonesia. Akibatnya banyak yang bertanya-tanya dan bahkan kecewa ketika seri demi seri podium juara makin sering direbut pembalap yang menggunakan mesin buatan Italia ini.   

Konsep Ducati di Moto GP

Memang benar Moto Gp merupakan pengganti dari Gp 500 sejak tahun 2002. Sejak 10 tahun terakhir sebelum diganti dengan Moto Gp,  Gp 500 didominasi oleh pabrikan Jepang. Tercatat sejak tahun 1992 hingga 2001 terdapat 3 pabrikan yang berhasil menjuarai baik konstruktor maupun pembalap yaitu Wayne Rainey dengan Yamaha YZR-500 kemudian Kevin Scwantnz dan Kenny robets diatas Suzuki RGV-500 dan yang tidak asing lagi yaitu Mick Doohan, Alex Criville dan Valentino Rossi diatas Honda NSR-500. Tetapi ketika era Moto Gp hadir dengan konsep mesin 4 tak 990 cc pada tahun 2002 membuat pabrikan asal Italy Ducati dan Aprilia untuk turut berpartisipasi. Pada musim 2003 Ducati Corse turun secara penuh sebagai peserta Moto Gp. Sebagai pabrikan yang telah absen selama 30 tahun lebih berhasil meraih podium juara pada musim pertamanya sekaligus menjadi runner up pada klasemen konstruktor mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang luar biasa. Apalagi pembalapnya, Loris Capirossi dan Troy Bayliss berhasil bertengger di posisi 4 dan 6 klasemen akhir.  Namun sebenarnya ini merupakan sebuah awal yang baik bagi rencana jangka panjang Ducati dalam memporak porandakan dominasi Honda dan Yamaha di Moto Gp. Mengapa demikian?

Dominasi Ducati di World Superbike Championship

Sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 1988 hingga saat ini telah 19 musim balapan digelar, Ducati memenangkan 12 diantaranya baik pembalap maupun pabrikan. Meski konsep WSBK dan Moto Gp sangat berbeda, ada beberapa hal yang sangat menguntungkan bagi pabrikan seperti Ducati. Salah satunya adalah penggunaan mesin 4 langkah yang kini diaplikasikan pada seri Moto Gp. Bagi pabrikan seperti Honda, Yamaha dan Suzuki mereka baru melakukan persiapan pada awal tahun 2000, tak lain karena mereka masih harus membagi konsentrasi pada pengembangan motor 2 tak mereka dalam menghadapi musim balap tahun 2001. Sedangkan bagi Ducati mereka tinggal mempersiapkan sasis dan mesin saja mengingat mereka memang ahlinya dalam mengembangkan motor balap bermesin 4 tak.

Riset dan Pengembangan Ducati Desmo GP Series 

Apabila musim 2003 dengan Ducati Gp3 mereka masih melakukan uji kelayakan mesin, maka pada Gp4 dan Gp5 mereka mengembangkan teknologi sasis untuk mendukung kesetabilan. Loyonya Ducati pada musim 2006 dengan Gp6 hal ini disebabkan Ducati lebih berkonsentrasi untuk mengembangkan motor berkapasitas 800cc ketimbang habis habisan pada motor 990cc yang akan segera pensiun. Itupun mereka masih sempat mengecap 2 kemenangan pada seri pertama dan terakhir. Pada musim 2007 merupakan saat bagi Ducati memanen hasil pengembangan dari Ducati Gp3 sampai Ducati Gp6. Keunggulan Ducati Gp7 atas lawan lawanya merupakan hasil dari riset yang dilakukan Ducati Corse selama 4 musim balapan dan untuk yang akan datang dijamin kita akan lebih sering melihat tim asal Bologna ini menjadi juara seri ketimbang tim dari Jepang.  

Di ketas kertas Ducati Desmosedici GP 7 unggul segala galanya atas kwartet Jepang

blap.jpg

Jika dilihat dari performa motor terutama tenaga mesin dan top speed sangat terlihat keunggulan Ducati Gp7 dibanding lawan lawanya terutama dari Yamaha YZR M1 tunggangan Valentino Rossi. Meskipun data kecepatan motor dalam berakselerasi dan kecepatan saat melahap tikungan juga sangat mempengaruhi tetapi data tersebut sangat bervariasi tergantung pada komposisi dan konvogurasi gir. Apalagi musim 2007 ini overtaking lebih sering terjadi pada trek lurus sehingga tenaga dan top speed motor lebih berpengaruh dalam menentukan mengang kalahnya seorang pembalap dibanding musim sebelumnya.

 Casey Stoner Vs Valentino Rossi …

Juara dunia 5 kali moto Gp ditantang anak ingusan yang musim lalu terkenal sebagai pembalap spesialis terjatuh, siapa yang menang? Mungkin banyak yang meragukan kemampuan pembalap muda asal Australia yang satu ini, entah karena jenis motor yang digunakan kurang populer ditanah air ataupun karena aura Valentino Rossi yang begitu besar mungkin membuat sebagian bikers penggemar Moto Gp lebih mengunggulkan Rossi dibanding Stoner. Bahkan pembalap Honda asal Spanyol Dani Pedrosa lebih difavoritkan . Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Casey Stoner merupakan satu satunya pembalap yang mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Australia (bukan Vermeulen bukan pula Bayliss) bahkan peraih medali emas atletik pun turut dilibatkan dalam melatih Stoner. Hal ini dikarenakan Australia telah kehilangan banyak figur yang menjadi ikon olah raga, seperti pensiunya Doohan, Ian Thorpe maupun kegagalan Mark Webber di F1 membuat Australia habis habisan dalam mendukung pebalap asal Kuri-Kuri ini. Apalagi dengan menjadi juara dunia nya Casey Stoner dapat menaikan moral Australia, negara yang semakin hari semakin terjajah oleh kedatangan pendatang asal Asia terutama Indonesia yang semakin banyak menguasai pasar dan ekonomi negri kangguru ini. Bila Australia saja samapai rela mendukung Stoner habis habisan kenapa Indonesia tidak melakukan hal yang sama dengan Doni Tata yang jelas jelas lebih muda dan berbakat ketimbang Stoner … setuju ?

*Faktor Michellin vsBridgestone akan dibahas di artikel selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

24
Jun

CBF 250 Calon Pengganti Tiger Revo Paling Kuat (skenario-3)

Bila sebelumnya kita telah menghayal dan berimajinasi tentang motor seperti apa yang akan menggantikan Honda Tiger Revo di dalam jajaran produk flagship AHM melalui imajinasi kehadiran mini Monster Honda VTR 250, kemudian disusul si garang Hornet 250 kini kita menuju kandidat terakhir. Menjadi kandidat nomor tiga belum tentu memiliki peluang lebih kecil dibanding yang pertama, iya kan?

cibay.jpg

Honda CBF 250 Bigger Tiggy …

Kalau VTR 250 merupakan Ducati Monster yang di kecilkan, CBF 250 merupakan Tiger Revo yang dibesarkan 25 persen. Secara penampilan CBF 250 tidak segagah Hornet 250 apalagi VTR 250. Sepintas siluet CBF 250 menyerupai gabungan antara Tiger Revo dan Yamaha Fazer 250, tidak lebih. Bila Hornet dan VTR menggunakan mesin Inline Four dan V-twin berpendingin air, mesin CBF 250 meski memiliki kapasitas yang serupa hanya menggunakan pendingin udara dan jumlah silinderpun hanya satu. Persisi seperti Yamaha Fazer 250 rem belakang CBF 250 hanya menggunakan rem tromol. Sasis masih menggunakan cradle seperti halnya Tiger Revo. Bedanya hanyalah CBF 250 sudah menggunakan suspensi monoshock jadi penampilan dan kaki kaki CBF 250 sedikit lebih terdongkrak.

Laporan Pandangan Mata Dilapangan

Seperti reporter sepak bola aja ya he he … Beda dengan VTR 250 dimana Indobikers berkesempatan secara langsung mengetes pengendalian dan performa VTR 250, kali ini Indobikers hanya berkesempatan melihat dan merasakan duduk diatas motor tersebut selama kurang lebih 1 menit. Maklum motor orang yang kebetulan lagi diparkir di pinggir jalan. Meski cuma satu menit kesan yang didapat sangat jauh berbeda dengan Honda VTR 250 apalagi dengan Hornet 250. Tidak ada sesuatu yang spesial di CBF 250, yang ada hanyalah kesan bahwa ada sebuah Tiger Revo yang diperbesar 15 persen, tidak lebih. Untuk urusan performa Indobikers hanya bisa mengandalkan Motorcycle Yearbooks Vol 1 dan 2 yang selama ini menjadi reverensi utama blogg Indobikers. Disitu dikatakan bahwa bobot CBF 250 adalah 145 kg dengan konfigurasi mesin 250cc satu silinder berpendingin udara. Untuk performa dikatakan bahwa tenaga mesin yang dihasilkan adalah 21 hp pada 6.500 rpm dan torsi maksimum adalah 18nm pada 6.000 rpm. Top speed CBF 250 adalah 145 km/jam tidak lebih, tetapi sumber lain mengatakan top speednya hanya 135 km/jam. Dijelaskan juga bahwa CBF 250 di kategorikan sebagai motor harian, bukan motor sport, bukan motor touring seperti Hornet 250 dan bukan pula light street fighter seperti halnya VTR 250.

cbf250.gif

Peluang CBF 250 Masuk ke Tanah Air ?

Bisa dibilang lebih besar, jauh lebih besar dibanding Hornet 250 dan VTR 250. Banyak faktor diantaranya harga CBF 250 yang hanya $4000 Aud atau 28 juta rupiah dan seperti biasa, Astra Honda Motor selalu memasukan varian paling rendah dan dengan teknologi sesederhana mungkin. Mesin satu silinder berpendingin udara plus sasis cradle kan tidak berbeda jika tidak mau dibilang sama persis dengan Tiger Revo (hanya kapasitas mesinya yang berbeda). Jika status masuknya Fazer adalah Nyaris pasti, Hornet adalah tidak mungkin, VTR adalah imajinasi maka CBF 250 hadir sebagai pengganti Tiggy adalah … kemungkinan besar!

Aduh mak! belum belum ane udah disodorin produk kelas dua eh tiga!…nasib nasib!

22
Jun

Penganti Honda Tiger Revo Telah Tiba! (skenario II)

Ini skenario adalah skenario ke dua ! Bila skenario pertama adalah VTR 250, kini giliran kandidat yang ke dua hadir untuk unjuk gigi. Hadir ke dua belum tentu lebih buruk dari yang pertama bahkan mungkin lebih baik lagi! Bagi penggamar moge jenis street fighter nama seram nan gagah bagi sebuah motor bukanlah hal yang asing. Bagi produsen penamaan kepada produknya  terutama yang berkategori motor street fighter sepertinya sudah menjadi keharusan. Mulai dari Cagiva dengan Raptornya, Ducati dengan Monsternya, … dengan Hellcat nya maka seperti tidak mau ketinggalan Honda hadir dengan nama Hornet.    

bluenet.jpg

250 cc 4 silinder … gila!

Umumnya motor bermesin 250cc memiliki jumlah silinder 2 baik sejajar ataupun V-twin. Bahkan banyak juga produsen yang membuat motor bekapasitas  250 cc tetapi hanya menggunakan satu buah silinder, umumnya hal ini untuk mengurangi ongkos produksi. Tetapi konsekuensinya adalah, motor tersebut mengalami penurunan performa yang cukup drastis seperti halnya yang dialami oleh Honda CBF 250 dan Yamaha Fazer 250. 

Tetapi kali ini Honda melakukan sesuatu yang tidak biasa. Membuat motor 250cc dengan jumlah silinder empat buah dengan konfigurasi inline four. Hasil yang diperoleh adalah motor cruiser 4 tak berbobot 152 kg tetapi memiliki tenaga sebesar 40 hp pada 14.000 rpm dan torsi sebesar 29nm pada 11.000 rpm. Belum lagi teknologi DOHC yang menjadi kelengkapan standar membuat Hornet 250 menjadi motor terhebat dikelasnya. Dengan top speed mencapai 165 km/jam dan torsi raksaksa membuat performa motor cruiser yang satu ini patut diwaspadai. Jangankan Ninja ZX 250 apalagi Pulsar 220 DTSi , Ducati Monster M400 yang berkapasitas 400cc pun dapat diasapi dengan mudah.      

Penampilan Garang Hornet

Ban belakang berukuran raksasa 180/55 x17 dan 130/70 x 17 untuk ban depan, ditambah knalpot yang diletakan di bawah jok membuat  Honda Hornet mudah dibedakan dengan motor motor lainya. Mesin 4 silinder in-line plus radiator yang terletak tepat dibawah tanki bensin besar memberi kesan padat dan berotot (tidak kopong seperti Tiggy, Pulsar atau Monster). Lampu bulat ditambah speedometer yang dilapisi chrome semakin memperjelas kasta Hornet, walaupun ”hanya” bermesin 250cc tetapi memikiki status sebagai moge kelas ringan. Posisi mengemudi seperti umumnya  motor street fighter, tidak membungkuk namun memiliki center grafity yang tinggi sehingga memudahkan pengendara untuk bermanufer dan mengendalikan tenaga Hornet yang begitu besar.

Mungkinkah Hornet 250 masuk ke pasar nasional ?

Tipis! Bahkan mendekati titik nol sepertinya sudah menjadi takdir buat motor street fighter sejati bikinan Honda ini. Faktor yang paling mengganjal adalah harga dari Hornet itu sendiri. Karena ongkos produksi motor ini begitu tinggi, bandingkan dengan Honda VTR yang hanya dua silinder saja bisa dihargai lebih dari 50 juta per unitnya, apalagi Hornet yang memiliki 4 silinder. Selain itu, apakah masyarakat Indonesia membutuhkan motor 250cc 4 silinder seperti Hornet? Apalagi ukuran motor ini tergolong terlalu besar buat konsumen Indonesia yang rata rata hanya berukuran 170 cm / 65 kg. Kalaupun AHM memasukan bisa dijamin bahwa volume penjualanya sangat sangat kecil. Kesimpulanya adalah bahwa masuknya Honda Hornet ke Indonesia hanya menjadi impian belaka bagi para bikers di tanah air. Lalu siapakah pengganti Tiger Revo yang paling masuk akal? … tunggu saja di (seknario III)

 

20
Jun

Pengganti Honda Tiger Revo Telah Tiba ! (skenario-1)

… sayangnya cuma dalam khayalan ! hiks hiks … 

Kadang kadang menghayal dan berimajinasi itu banyak gunanya, terutama menghayal mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan. Asalkan jangan terlalu berlebihan banyak hayalan yang menjadi kenyataan!

Seandainya pihak Astra Honda Motor membuka mata hatinya dan mereka mengganti produk unggulanya yaitu Honda Tiger Revo yang sudah sangat ketinggalan zaman. Kemungkinan seperti apa ya produk penggantinya? Sebenarnya produk yang menjadi kandidat pengganti Tiggy itu sangat banyak. Tetapi yang relevan mungkin hanya ada dua produk yang  pantas untuk di imajinasikan dan dikhayali untuk masuk ke pasar lokal melalui importir AHM tentunya. Salah satunya akan kita bahas dalam posting kali ini …

minon.jpg

Honda VTR 250

Sejauh ini terutama di Melbourne kondang di sebut miniatur Ducati Monster. Demikian adanya karena bukan saja sepintas tapi meskipun di plototin sampai matanya belo, tampilan Honda VTR 250 memang persis Ducati Monster. Bedanya yang satu ini memiliki mesin 2 kali lipat lebih kecil dan hanya memiliki satu buah knalpot. Sasis yang menggunakan twin tube trellis khas Ducati. Mesin V twin dengan radiator plus cakram depan tunggal berukuran 320mm dan belakang 180mm menambah mantap penampilan motor miniatur Monster ini.

Hasil Test Drive

Secara kebetulan, Indobikers berkesempatan mencoba mengendarai Honda VTR 250 ini. Maklum soalnya yang punya motor ini temen kuliah, dia orang Singapura tetapi keturunan jawa tengah, dari Yogyakarta tepatnya.  Dari posisi mengemudi hampir mirip dengan posisi mengendarai Monster beneran cuma agak sedikit lebih tegak. Karena bobot motor cuma 140 kg atau terpaut 40 kg dari Monster, membuat VTR 250 lebih mudah dalam bermanufer terutama bila digunakan di kota seperti Jakarta. Mesin 250cc dengan radiator mampu mengeluarkan tenaga sebesar 32hp pada 10.200 rpm dan torsi sebesar 24nm pada 8500 rpm. Diputaran mesin rendah terasa agak melempem  tetapi begitu di rpm 7.000 tenaganya mulai terasa dan pada 8.000 rpm … salut! VTR 250 memiliki performa serupa dengan Monster 620 yang notabene memiliki kapasitas mesin hampir 3 kali lebih besar dan harga 3 kali lebih mahal. Tak lain karena bobot motor ini sangat lah ringan bila mengingat  ini merupakan motor touring bukan motor sport. Sayangnya untuk top speed Indobikers hanya boleh memacu motor hingga kecepatan 80 km/jam. Namun itu sudah cukup karena secara performance motor ini memang memiliki karakter pengendalian dan performa luar biasa.

Seandainya menjadi kenyataan ?

Jika Yamaha Fazer 250 telah hadir, maka Honda VTR 250 akan berhadapan langsung dengan pengganti Scorpio tersebut. Secara statistik performa VTR 250 berada jauh diatas Yamaha Fazer 250. Sebagai contoh adalah tenaga Fazer 250 yang hanya 22 hp dan torsi 20nm bila dibandingkan dengan VTR 250 yang mencapai 32 hp dan torsi sebesar 26nm. Apalagi dari segi penampilan, sasis twin tube trelis has Ducati menambah kesan sangar bila dibandingkan dengan Yamaha Fazer 250 yang masih menggunakan sasis model cradle box seperti Tiggy Revo dan motor lokal pada umumnya. Sayang seribu sayang, harga motor ini di Australia saja sudah mencapai $6500 Aud atau 45 juta rupiah. Bila benar AHM memutuskan memasukan motor ini tidak terbayang berapa uang yang harus dikeluarkan konsumen untuk menebus mini Monster yang satu ini…(bersambung ke skenario II) 

 

VTR 250 Galeri link : http://indobikers.wordpress.com/2007/06/20/honda-vtr-250/

17
Jun

Yamaha Fazer 250, sang raja cruiser pengganti Scorpio

fazer250_2007.jpg

Scorpio Out! Fazer 250 in ! 

Saat pertama kali melihat Yamaha Scorpio tersirat pertanyaan negatif mengenai motor 220cc ini. Apakah motor ini pantas dijadikan produk flagship Yamaha Indonesia? Terlihat dari tongkronganya yang serba tanggung bila dibandingkan dengan pesaingnya. Bila disandingkan dengan Honda Tiger Revo, Scorpio terlihat kalah kekar. Bila diadu dengan produk kebanggan Kawasaki Indonesia, Ninja 150 dengan mudah meng KO Scorpio baik secara performa maupun penampilan. Bahkan setelah kelahiran “adiknya” V-Ixion yang serba inovatif nasib Scorpio semakin tidak jelas. Mungkin memang sudah menjadi takdir bagi Scorpio untuk menjadi produk pengisi kekosongan Yamaha pasca pensiunya TZM ataupun RZR.

Kini Yamaha di prediksi akan menghadirkan Fazer 250 untuk menggantikan si “tanggung” Scorpio. Produk yang akan menjadi flagship Yamaha indonesia ini  hadir dengan mesin berkapasitas 250cc. Tampilan motor cruiser yang diadaptasi dari Yamaha Brazil ini terlihat begitu kekar terutama jika dilihat dari samping maupun belakang. Sepintas mirip dengan Honda CBF 250 saingan sesama jepangnya.

Fazer 250 memang paling unggul

Dibanding Yamaha Fazer 250, Bajaj Pulsar dan Honda Tiger Revo silahkan minggir. Mungkin memang terdengar begitu arogan. Namun begitulah adanya, Fazer yang memiliki kapasitas mesin lebih besar memang unggul segala galanya bila dibandingkan dengan Pulsar maupun Tiger Revo. Dari segi tampilan luar, terlihat jelas kerapihan rancangan varian terkecil keluarga Fazer ini. Tampilan luar yang begitu kekar menyiratkan aura motor street fighter sejati. Kapasitas tanki bensin Fazer 250 yang mencapai 19,2 liter ini bahkan lebih besar dibandingkan kapasitas tanki “rajanya street fighter” Ducati Monster. Monster S4R yang berkapasitas 1000cc memiliki tanki bensin yang hanya dapat menampung 17,5 liter . Bobot Fazer yang hanya 134 kg ini merupakan yang paling ringan dibandingkan Tiger Revo, apalagi Pulsar yang mencapai 140kg, bahkan bila dibandingkan motor sports eropa Mito sekalipun bobot Fazer masih lebih ringan 1kg. Satu satunya kekurangan Fazer adalah absenya rem cakram belakang. Padahal motor yang telah menggunakan suspensi monoshock ini memiliki tenaga 22 hp dan torsi 20nm pada 6500 rpm. Harusnya masalah konsumsi bensin sepertinya bukan persoalan bagi konsumen motor berkapasitas diatas 200cc. Pertanyaanya tinggal kapan Yamaha akan merilis ultimate light cruiser ini dan berapa harganya?  Karena bila di beri harga sekitar 22 atau 23 juta rupiah per unitnya dijamin Yamaha Fazer 250 akan “membunuh” saingan sainganya terutama Tiger Revo maupun Bajaj Pulsar. Mengingat faktor dukungan non teknis seperti image dan jaringan after sales service yang dimiliki  Yamaha bisa dikatakan sama kuat dengan yang dimiliki Honda. 

Performa Fazer 250

Akselerasi Fazer 250 hampir sama dengan Tiger Revo dan Bajaj Pulsar namun Fazer 250 memiliki top speed 145 km/jam atau lebih tinggi 15 km/jam dibanding Bajaj Pulsar 180 DTSi. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor diantaranya berat kosong Fazer yang hanya 134 kg, ukuran tapak ban Fazer yang lebih lebar dibanding saingannya dan kapasitas mesin yang lebih besar.Tenaga maksimum Fazer 250 adalah 22hp pada  7500 rpm dan torsi maksimumnya adalah 20nm yang dapat diraih pada putaran 6500 rpm. Keuntungan dari torsi besar yang didapat pada putaran mesin menengah artinya Yamaha Fazer 250 dapat bermanufer dengan lincah pada kecepatan sedang antara 50 sampai 80 km/jam. Sebuah kondisi yang sangat ideal apabila motor tersebut digunakan di kepadatan lalu lintas ibukota yang amat membutuhkan tenaga dan torsi besar pada putaran mesin menengah. Sebaliknya apabila untuk dipakai dalam perjalanan jauh Fazer 250 memiliki riding position yang amat ideal karena seperti motor cruiser dan street fighter pada umumnya, memiliki central grafity yang tinggi namun tidak perlu membuat posisi pengendara begitu menunduk sehingga tidak cepat membuat lelah. Ban berukuran 130/70 x 18 memiliki tapak yang lebar sehingga menambah kestabilan motor berkapasitas 250cc ini ketika harus menjelajahi jalanan aspal yang basah atau  licin. Sebenarnya Honda Tiger Revo dan Bajaj Pulsar 180 DTSi bukanlah lawan yang sepadan untuk Fazer 250. Karena semestinya Fazer 250 dihadapkan dengan Honda VTR 250, CBF 250 atau Bajaj Pulsar 220 DTSi.

stalok.jpg

Statistik vital antara Fazer 250 dengan kompetitornya

fazerjet.jpg 

Galeri Yamaha Fazer 250 :

http://indobikers.wordpress.com/2007/06/17/yamaha-fazer-250/

 

16
Jun

Gebrakan Baru Cagiva : Mito 125 Evoluzione

15
Jun

Berlebihan! Regulasi Anti Mesin 2 Tak

2strokehero.jpg 

Usaha pemerintah untuk melestarikan lingkungan memang patut didukung semua pihak, termasuk juga pengguna sepeda motor. Tetapi ada baiknya kita mencermati ada apa sebenarnya dibalik “kesadaran mendadak” pemerintah dalam melestarikan lingkungan. Salah satunya adalah usaha pemerintah dalam menerapkan standar emisi Euro II, yang secara langsung akan mematikan perkembangan industri motor 2 tak di Indonesia. Mengapa demikian? Karena sebenarnya emisi yang dihasilkan motor 2 tak masih tetap berada dikisaran standard Euro II. Bandingkan dengan polusi yang dihasilkan oleh kendaraan umum seperti Metro Mini, Kopaja ataupun  Mayasari Bakti. Jangankan standard emisi Euro II, emisi Euro I pun belum tentu lulus.

Bagaikan pembantaian masal yang dilakukan oleh Adolf Hitler pada perang dunia ke II, populasi motor bermesin 2 tak menyusut. Satu persatu produsen mulai menghentikan produksi motor 2 tak mereka. Honda yang paling pertama dengan “membunuh” NSR 150nya. Kemudian Suzuki dengan menghentikan produksi varian Tornado dan RGRnya. Yamaha kini tinggal menyisakan singa tua RX King dalam line-up nya. Hanya tinggal Kawasaki yang masih mampu bertahan dengan pasukan Ninjanya. Kalaupun ada ATPM lain yang masih menjual motor bermesin 2 tak hanyalah Cagiva dengan Mito 125 nya. Itupun harus inden dan  di hargai Rp 60 juta per unitnya, dan kalaupun ada umumnya Mito digunakan oleh pemiliknya sebagai motor hobi bukan kendaraan oprasional. Akhirnya hanya tinggal Rx King dan Ninjalah yang tersisa sebagai motor 2 tak oprasional. Sungguh menyedihkan terutama mengingat performa yang dimiliki motor sport ringan bermesin 2 tak bila dibandingkan dengan motor sport serupa bermesin 4 tak.

Pabrikan yang paling diuntungkan

Jika ada pandangan sinis, sebenarnya ada sebuah pabrikan yang paling diuntungkan yaitu pabrikan berlambang sayap. Mengapa demikian? Karena dari jauh jauh hari produsen motor asal Jepang ini memang tidak memproduksi motor bermesin 2 tak bersekala besar, itupun penjualanya tidak begitu menggembirakan.  Sehingga dengan adanya standar Euro II justru membuat penjualan pabrikan tersebut mengalami peningkatan. Karena pabrikan tersebut sudah memiliki Image sebagai produsen motor 4 tak.

Di Australia mesin 2 tak masih berjaya

Sebagai perbandingan paling mencolok adalah Australia. Negara tetangga yang paling sering bikin ulah ini terkenal sebagai negara yang paling peduli terhadap lingkungan. Bayangkan, mencuci kendaran di rumah atau bukan pada tempatnya (car wash) si pemilik mobil akan dikenai denda $100 dolar. Karena dianggap air sisa mencuci mobil atau motor akan mencemarkan lingkungan. Tetapi uniknya mereka tetap mengizinkan motor bermesin 2 tak berlalu lalang kemanapun pengemudinya menghendaki. Jangankan bermesin kecil, Suzuki RGV 250 atau Aprilia 250 pun masih banyak beredar. Bahkan penjualan Aprilia Rs125 pada tahun 2006 meningkat dibanding pada tahun sebelumnya. Hal ini didasari oleh pemikiran : selama polusi yang dihasilkan masih berada di ambang batas toleransi ya sah-sah saja motor tersebut di pakai di jalanan umum.        

12
Jun

Raja Cruiser … Bajaj Pulsar 180 DTSi vs Honda Tiger Revo

 

Topik terhangat saat ini adalah banyak bikers yang membanding bandingkan Tiger Revo vs Pulsar 180 DTSi. Banyak yang bilang Tiger Revo adalah motor kuno dan under performance tetapi banyak juga yang mencibir Bajaj Pulsar identik dengan kendaraan umum beroda tiga yang juga bernama Bajay.

Bajaj Pulsar 180 DTSi

Pendatang baru di dunia otomotif Indonesia. Bajaj merupakan salah satu raksasa otomotif India hadir ke indonesia dengan mengandalkan Bajaj Pulsar 180 DTSi sebagai ujung tombak produk mereka. Sadar akan statusnya sebagai pendatang baru, Pulsar yang bermesin 180cc memiliki harga yang termurah dibanding motor jenis cruiser yang sekelas. Tetapi apakah bisa motor yang baru berumur setahun ini pantas dinobatkan sebagai rajanya motor cruiser di tanah air ?

Honda Tiger Revo

Penerus dari sang raja tua, Tiger 2000 ini hadir dengan perubahan minor di banding pendahulunya. Hal ini memang mendapat banyak kritik terutama dari penggemar sepeda motor. Salah satunya adalah akibat penggunaan mesin Tiger 2000. Tetapi tentunya pihak Astra Honda Motor sudah memiliki pertimbangan tersendiri akan keputusanya tersebut. Akankah si raja tua mampu mempertahankan mahkotanya terhadap serbuan serigala muda.

Komparasi Statistik Vital  Tiger Revo vs Bajaj Pulsar

Apakah keunggulan tersebut membuat Honda Tiger Revo lebih unggul dibanding Bajaj Pulsar?

Belum tentu ! Karena meski memiliki keunggulan pada statistik vital, ada beberapa hal yang yang dapat menjadi bumerang bagi keunggulan Honda Tiger Revo terhadap Bajaj Pulsar 180 DTSi. Karena ada beberapa faktor nonteknis yang dapat mentahbiskan sebuah motor menjadi motor yang terbaik.

Faktor ATPM

Keberadaan Astra Honda Motor yang berpengalaman lebih dari 30 tahun  dan secara konsisten meningkatkan kualitas pelayanan terhadap konsumen merupakan jaminan tersendiri terhadap konsumen. Jaringan service dan suku cadang AHASS yang tersebar di seluruh penjuru dan kota di Indonesia semakin membuktikan superioritas AHM atas PT Bajaj Motor Indonesia yang baru berusia 2 tahun dan memiliki jaringan servis kurang dari 100 unit.

Faktor Image

Faktor inilah yang menjadi palu godam terhadap Bajaj Pulsar. Honda yang berasal dari negara maju dan mendominasi berbagai ajang kejuaraan dunia motor sports mulai dari Moto GP, World Superbikes hingga Enduro semakin mengukuhkan superioritas Honda terhadap Bajaj, yang justru absen di seluruh ajang ke juaraan dunia motor sports. Ditambah buruk dengan identiknya Bajaj dengan kendaraan umum beroda tiga yang juga bernama BajaY. Disamping itu sudah menjadi hukum alam dimanapun berada, dikalangan apapun faktor image juga menjadi penentu laku tidaknya sebuah produk di pasar.

Terkait : http://ducatimonster.wordpress.com/2007/06/07/image-andalan-atpm-dalam-menjaring-konsumen/

Faktor Harga

Harga Tiger Revo 23 juta rupiah yang berarti terpaut 6,5 juta rupiah dengan Bajaj Pulsar menjadi sebuah tanda tanya bersar bagi AHM. Meski pun memiliki keunggulan image maupun jaringan suku cadang dan service bukan berarti Tiger Revo berhak dihargai 6,5 juta lebih mahal dibanding Bajaj Pulsar. Apalagi perbedaan fitur keduanya hanya dibedakan dengan kehadiran rem cakram belakang pada Revo, rasanya semakin membuat ganjil terhadap price list yang diberikan AHM kepada Tiger Revo.

Kesimpulan Akhir Antara Tiger Revo dengan Bajaj Pulsar

Kesimpulan ini diambil berdasarkan perbandingan diatas dan berdasarkan data data yang diambil dari berbagai sumber. Apalagi INDOBIKERS mencoba senetral mungkin karena memang INDOBIKERS tidak memiliki ikatan emosional terhadap merk Honda dan Bajaj.

Pengandaian pertama adalah jika kedua motor kita bandingkan tanpa mengikut sertakan faktor non teknis seperti faktor  dukungan ATPM, jaringan service dan Image. Sehingga hanya membandingakan Tiger Revo seharga Rp 23 juta rupiah dengan Pulsar seharga Rp 16.5 juta rupiah, tetapi keduanya hadir tanpa embel-embel nama besar Honda dan Bajaj. Terus terang dengan fitur yang ditawarkan dan faktor harga saya akan memilih Pulsar 180 DTSi.

Pengandaian yang kedua adalah dengan mengikut sertakan faktor non-teknis tetapi dengan dikuranginya harga Honda Tiger Revo  menjadi Rp 20 juta rupiah pas. Sedangkan harga Bajaj Pulsar dibiarkan tetap 16,5 juta rupiah. Dengan dukungan ATPM dan nama besar, INDOBIKERS rela merogoh kocek tiga juta rupiah lebih mahal demi mendapatkan motor cruiser dengan dukungan ATPM dan image yang kuat di masyarakat.  

Untuk kesimpulan akhir tidak bisa menggunakan pengandaian, tetapi harus berdasarkan fakta dan kenyataan. Meskipun unggul di semua lini, kecuali faktor performa menurut saya harga Tiger Revo yang terpaut 6.5 juta rupiah tetap terlalu mahal dan tidak relevan dengan fitur motor yang ditawarkan. Sehingga meski tipis Bajaj Pulsar 180 DTSi sedikit berada didepan dibanding Honda Tiger Revo yang agak terlalu mahal . . . Setuju ?  




Jarak Tempuh

  • 1,252,925 Km

INDOBIKERS, Indonesian Bikers Community